Rabu, 08 Juni 2011

PUISI: PAK TUA

Pak Tua (2)

Nafasmu tersengal
menahan rintih
akan waktu yang semakin menindih

Langkahmu tak lagi nyaring
kala gesa meradang

"Haruskah kelambu kubelah?"

Memandangmu kian gelisah
terobos senja
kibaskan kabut

"Sudahlah.
Biarkan kami lanjutkan mimpi dan langkahmu."

Sengkarut racun kian mengendap
kikis ketangguhan
sisakan keangkuhan
tenggelamkan kejayaan

Ironi beranjak
menyulap bahkan menginjak
petuah bijak

"Biarkan kami lanjutkan mimpi dan langkahmu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer