Rabu, 31 Agustus 2011

PUISI: TENTANG(MU), IBU(KU)

Tentang(mu), Ibu(ku)

untaian kata doa slalu terucap dari mulutmu
kau bangun dalam pohon kesabaran yang slalu rimbun
hijau dan slalu berbuah
mengiring langkahku yang takkan berhenti sampai waktu menentukan

usapan kasih slalu terungkap dari matamu
kau tebar dalam senyum yang tak pernah semu
tulus dan slalu berbinar
memelukku dalam kehangatan cinta yang tiada batas

airmata yang mengucur dari pelupuk matamu
tanda kasihmu yang kekal
meski tanganku lukai rasamu
meski slalu kau dapati bebal
dalam diri yang tak jua mampu
percikkan tawa pengganti kesal

lirih bisikmu
pancing pikirku akan makna tuturmu
meski kadang masuk telinga kanan keluar telinga kiri
tak pernah berhenti kau sampaikan
mutiara kehidupan


Minggu, 17 Juli 2011

PUISI: Ketika Malam Semakin Larut

Ketika Malam Semakin Larut

Mungkin gelap tidak mau pergi
Menyelimuti bahkan mengurung
Mimpi yang kan tetap menjadi mimpi

Beku
Dalam titik didih
Tanpa batas

Hilang
Tersapu gelisah
Tak menentu

Dan
Kupu-kupu mulai terbang
Merajuk dan merayu
Kerdipkan senyum

Lampu kota kian gemerlap
Tersayup gema
Panggilan alam

PUISI: Ketika Malam Semakin Larut

Ketika Malam Semakin Larut

Mungkin gelap tidak mau pergi
Menyelimuti bahkan mengurung
Mimpi yang kan tetap menjadi mimpi

Beku
Dalam titik didih
Tanpa batas

Hilang
Tersapu gelisah
Tak menentu

Dan
Kupu-kupu mulai terbang
Merajuk dan merayu
Kerdipkan senyum

Lampu kota kian gemerlap
Tersayup gema
Panggilan alam

PUISI: Masih Berjalan

Masih Berjalan

Waktu kian tak mau menunggu
Pada mimpi yang tak tentu
Pada bayang yang mengikutiku
Terus berjalan
Meski arah tak sanggup dan tak mau
Membawaku dalam laju
Deru nafas semu
Merayu
Hentikan langkahku
Pada titik yang tak jua kujemu
Puing berserakan
Memanggil tuk diperhatikan
Silaukan pandangan
Akan masa depan
Dan merpati pun slalu menemaniku
Meski awan gelap menutupi jalanku
Menuntunku
Meski aku tak tahu
Ke mana arah yang ku tuju
Membawa telapak kaki
Berlari
Mengejar mimpi

PUISI:Kau Jadikan Aku Ada

Kau Jadikan Aku Ada

Malam terus berganti
Melantunkan lagu merdu
Belai kasih dan sayangMu

Dalam gesa yang tak terasa
Dalam deru semangat yang membara
Pembawa hasrat penuhi dunia

Terbang
Melayang
Berenang di antara mega
Hirup wangi bahagia

Tetes peluh tiupkan hidup
Lewat pergumulan batin

Merajuk
Merayu
Bangunkan sukma yang lelap
Bersama desah dan teriak

PUISI: Kau Jadikan Aku Ada

Kau Jadikan Aku Ada

Malam terus berganti
Melantunkan lagu merdu
Belai kasih dan sayangMu

Dalam gesa yang tak terasa
Dalam deru semangat yang membara
Pembawa hasrat penuhi dunia

Terbang
Melayang
Berenang di antara mega
Hirup wangi bahagia

Tetes peluh tiupkan hidup
Lewat pergumulan batin

Merajuk
Merayu
Bangunkan sukma yang lelap
Bersama desah dan teriak

Rabu, 08 Juni 2011

PUISI: LINGKARAN

(Lingkaran)

Terik sambangi terang
melangkah ke peraduan
membawa kemilau cahya
silaukan netra

Tubuhmu menggeliat
terbawa arus keramaian
menjinjing duka
memikul tawa

Semoga tak ada tanya
ke mana perginya

PUISI: LINGKARAN

(Lingkaran)

Terik sambangi terang
melangkah ke peraduan
membawa kemilau cahya
silaukan netra

Tubuhmu menggeliat
terbawa arus keramaian
menjinjing duka
memikul tawa

Semoga tak ada tanya
ke mana perginya

PUISI: PAK TUA

Pak Tua (2)

Nafasmu tersengal
menahan rintih
akan waktu yang semakin menindih

Langkahmu tak lagi nyaring
kala gesa meradang

"Haruskah kelambu kubelah?"

Memandangmu kian gelisah
terobos senja
kibaskan kabut

"Sudahlah.
Biarkan kami lanjutkan mimpi dan langkahmu."

Sengkarut racun kian mengendap
kikis ketangguhan
sisakan keangkuhan
tenggelamkan kejayaan

Ironi beranjak
menyulap bahkan menginjak
petuah bijak

"Biarkan kami lanjutkan mimpi dan langkahmu."

PUISI: USANG

USANG

Nafasmu mulai tersengal
menahan rintih
akan waktu yang semakin menindih

Langkahmu tak lagi nyaring
kala gesa meradang

"Haruskah kelambu kubelah?"

Memandangmu kian gelisah
terobos senja
kibaskan kabut

"Sudahlah,
waktumu kian tipis.
Biarkan kami lanjutkan langkahmu."

Sengkarut racun kian mengendap
kikis ketangguhan
sisakan keangkuhan
tenggelamkan kejayaan

Ironi beranjak
menyulap bahkan menginjak
petuah bijak

Sabtu, 07 Mei 2011

SASTRA


UNSUR FISIK DAN UNSUR BATIN PUISI

Unsur fisik/bentuk puisi:
1.      Diksi (pemilihan kata)
Pemilihan kata :     mempertimbangkan maknanya, komposisi bunyinya, kedudukan kata itu dalam hubungannya dengan kata yang lain, serta kedudukan kata dalam satu kesatuan puisi.
® kata konotatif
® mempertimbangkan urutan kata, keindahan dan kekuatan/daya magis

2.      Pengimajian
® kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman imajinasi.
® dalam puisi seolah-olah tercipta sesuatu yang dapat didengar, dilihat, ataupun dirasakan pembacanya.
  1. auditif
  2. visual
  3. taktik
  4. kinestetik
  5. penciuman

3.      Gaya bahasa: bagaimana bahasa yang digunakan oleh penyair dalam puisi.
1)      Kata konkret
® berfungsi untuk membangkitkan daya imaji sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar atau merasa apa yang dilukiskan oleh penyair.

2)      Bahasa figuratif/Majas: bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara pengiasan, yakni tidak secara langsung mengungkapkan makna.
Majas digunakan penyair untuk menyampaikan perasaan, pengalaman batin, harapan, suasana hati, ataupun semangat hidupnya.

Majas yang sering muncul dalam puisi:
1)      Perbandingan/simile: peribahasa kiasan yang memperbandingkan atau menyamakan sesuatu dengan yang lain dengan menggunakan kata pembanding: bagaikan, bak, semisal, seperti, serupa.
2)       Metafora: majas perbandingan tanpa menggunakan kata pembanding
3)      Alegori: majas yang mengiaskan sesuatu dengan hal lain atau kejadian lain
contoh: Ki Hajar Dewantara dengan kuntum bunga teratai.
4)      Personifikasi: majas yang membandingkan wujud atau sifat manusia dengan benda atau konsep abstrak.

4.      Rima/Ritma
Rima: pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi
ex: bagian akhir baris
Ritma: pengulangan kata, frase atau kalimat dalam bait-bait puisi.

5.      Tipografi: tata wajah, bentuk penulisan, visualisasi (bentuk gambar)
contoh: Tragedi Winka dan Sihka karya Sutardji Calzoum Bachri (tipografi zig zag)



Unsur batin puisi :
a.       Tema = pokok persoalan yang akan diungkapkan oleh penyair, penggambaran suasana batin, response terhadap kenyataan.
Contoh : tema ketuhanan, kemanusiaan, kritik atau protes social, cinta, dan sebagainya.
b.      Amanat = sesuatu (pesan) yang disampaikan penyair dalam puisinya.
c.       Perasaan = puisi merupakan wakil dari ekspresi perasaan penyair dapat berupa kerinduan, kegelisahan, penyanjungan kepada Tuhan, kekasih, alam.
d.      Nada dan Suasana
Nada = Sikap penyair terhadap pembaca.
Contoh : bersikap menasehati, menggurui, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca.
Suasana = keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi yang bersangkutan, akibat psikologis terhadap pembaca.
Contoh :
-          Nada duka dapat menimbulkan suasana iba hati
-          Nada kritik menimbulkan suasana penuh pemberontakan bagi pembaca
-          Nada religious menimbulkan suasana khusyuk.

Jumat, 06 Mei 2011

TATA BAHASA


Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua pola kalimat atau dua klausa atau lebih

1.      Kalimat Majemuk Setara
-          Hubungan antar unsurnya bersifat sederajat/ sama
a.       Kalimat majemuk setara penjumlahan (lalu, dan, kemudian)
b.      Kalimat majemuk pemilihan (atau)
c.       Kalimat majemuk pertentangan (tetapi, melainkan)

2.      Kalimat majemuk bertingkat
-          Hubungan antara unsur-unsurnya tidak sederajat
(induk kalimat dan anak kalimat)
a.       Kalimat majemuk bertingkat hubungan waktu ditandai dengan kongjungsi sejak, sewaktu, ketika, setelah, sampai, manakala
b.      Kalimat majemuk bertingkat hubungan syarat, ditandai dengan konjungsi jika, seandainya, andaikan, asalkan, apabila
c.       Kalimat majemuk hubungan tujuan ditandai oleh konjungsi agar, supaya, biar
d.      Hubungan konsesif ditandai dengan konjungsi walaupun, meskipun, sekalipun, biarpun, kendatipun sungguhpun.
e.       Hubungan perbandingan ditandai dengan konjungsi daripada, ibarat, seperti, bayangkan, laksana, sebagaimana, alih-alih, bak.
f.       Hubungan penyebaban ditandai dengan konjungsi sebab, karena, oleh karena.
g.      Hubungan akibat ditandai dengan konjungsi sehingga, sampai-sampai, maka
h.      Hubungan cara ditandai dengan konjungsi dengan.
i.        Hubungan sangkalan, ditandai dengan konjungsi seolah-olah, seakan-akan.
j.        Hubungan kenyataan ditandai dengan konjungsi padahal, sedangkan.
k.      Hubungan hasil ditandai dengan konjungsi makanya.
l.        Hubungan penjelasan ditandai dengan konjungsi bahwa, yaitu
m.    Hubungan atributif ditandai dengan konjungsi yang

3.      Kalimat Majemuk Campuran
-          Gabungan antara kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat-bersifat 3 kalimat/ klausa.
Contoh :  Pekerjaan itu telah selesai ketika kakak datang dan ibu memasak.

TATA BAHASA


Kata  Berimbuhan

Kata  berimbuhan adalah kata yang telah mengalami proses pengimbuhan (afiksasi)
Jenis-jenis imbuhan: (berdasarkan letak atau posisinya)
a.       Prefiks atau awalan adalah imbuhan yang diikatkan di depan bentuk dasar.
Contoh: me(N)-, ber-, di-, ter-, pe(N)-, per-, se-, ke-, maha-
b.      Infiks atau sisipan adalah imbuhan yang diikatkan di tengah bentuk dasar.
Contoh: -el-, -em-, -er-
c.       Sufiks atau akhiran adalah imbuhan yang diikatkan dibelakang bentuk dasar.
Contoh: -kan, -an, -i, -nya, -wan
d.      Konfiks adalah imbuhan yang diikatkan di depan dan belakang bentuk dasar secara bersamaan.
Contoh: ke-an, pe(N)-an, per-an, ber-an, se-nya

TATA BAHASA


Kata Ulang/Reduplikasi
Reduplikasi adalah kata yang mengalami proses perulangan, baik sebagian ataupun seluruhnya dengan disertai perubahan bunyi ataupun tidak.

Jenis-jenis kata ulang:
1.      perulangan seluruh bentuk kata dasar/perulangan utuh/dwilingga
a.       perulangan kata dasar
contoh: buah-buah, gunung-gunung, lari-lari, pagi-pagi
b.      perulangan terhadap kata berimbuhan
contoh: pelajar-pelajar, timbangan-timbangan, kejadian-kejadian
2.      perulangan berimbuhan: proses pengulangan yang disertai proses pengimbuhan.
contoh: padi                 padi-padian
            kanak               kekanak-kanakan
            tinggi               setinggi-tingginya
           dua                  kedua-duanya
3.      perulangan berubah bunyi: bentuk perulangan disertai perubahan bunyi
contoh: balik                 bolak-balik
            gerak               gerak-gerik
            sayur                sayur-mayur
            sorak                sorak-sorai
4.      perulangan sebagain: terjadi hanya pada sebagian bentuk dasar
contoh: daun                dedaunan                                tamu                tetamu
            luhur                leluhur                                     berkata                        berkata-kata
            pohon              pepohonan                               menali              tali-menali
           saji                   sesaji                                        menolak           tolak-menolak

Makna kata ulang:
1.      banyak tak tentu
contoh: batu-batu, buku-buku, kuda-kuda, dsb. (biasanya kata benda)

2.      banyak dan bermacam-macam
contoh: buah-buahan, dedaunan, bunyi-bunyian, pepohonan, dsb.

3.      menyerupai dan bermacam-macam
contoh: kuda-kudaan, langit-langit, mata-mata, robot-robotan, mobil-mobilan, dsb.

4.      agak atau melemahkan sesuatu yang disebut pada kata dasar
contoh: kebarat-baratan, kehijau-hijauan, malu-malu, sakit-sakitan, kekanak-kanakan, keinggris-inggrisan, dsb.

5.      intensitas kualitatif
contoh: keras-keras, kuat-kuat, segiat-giatnya, setinggi-tingginya

6.      intensitas kuantitatif
contoh: mengangguk-angguk, berlari-lari, bolak-balik, menggeleng-gelengkan, mondar-mandir, berputar-putar, dsb.

7.      makna kolektif
contoh: dua-dua, empat-empat, kedua-duanya, dsb.

8.      kesalingan
contoh: pukul-pukulan, bersalam-salaman, berpandang-pandangan, tolong-menolong, dsb.

SASTRA


UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK KARYA SASTRA (PROSA)
Karya sastra dibangun oleh dua unsur penting yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang terkandung di dalam karya sastra (unsur yang membangun karya sastra dari dalam).
Unsur intrinsik terdiri atas:
  1. Tema
Tema adalah gagasan, ide atau pikiran utama yang digunakan sebagai dasar dalam menuliskan cerita.
Tema merupakan inti atau ide dasar sebuah cerita. Dari ide dasar itulah kemudian cerita dibangun oleh pengarangnya dengan memanfaatkan unsur-unsur intrinsik yang lain (plot, penokohan, latar, dsb).
Tema merupakan pangkal tolak pengarang dalam menceritakan dunia rekaan yang diciptakannya.
ex. Tema masalah kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, pendidikan, dsb.

  1. Amanat
Amanat merupakan ajaran moral atau pesan didaktis yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan secara tersurat atau tersirat (disimpan rapi dan disembunyikan pengarangnya dalam keseluruhan isi cerita). Untuk dapat menemukan dan memahaminya, tidak cukup dengan membaca dua atau tiga paragraf, melainkan harus membacanya hingga selesai.

  1. Latar
Latar adalah unsur dalam suatu cerita yang menunjukkan dimana, bagaimana dan kapan peristiwa-peristiwa dalam cerita itu berlangsung.
Ada 3 macam, yaitu:
a.       Latar geografis/tempat adalah hal-hal yang berkaitan dengan tempat kejadian.
b.      Latar waktu adalah hal-hal yang berkaitan dengan masalah historis (waktu).
c.       Latar sosial adalah latar yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat (adat, kebiasaan, suasana, status sosial, dsb).



  1. Sudut Pandang
Sudut pandang dapat diartikan sebagai posisi pengarang terhadap peristiwa-peristiwa di dalam cerita.
Empat  tipe sudut pandang:
a.       Sudut pandang orang pertama sentral apabila tokoh sentral dalam cerita adalah pengarang yang secara langsung terlibat dalam cerita.
b.      Sudut pandang orang pertama sebagai pembantu adalah sudut pandang yang menampilkan “aku” (pengarang) hanya menjadi tokoh pembantu yang mengantarkan tokoh lain yang lebih penting.
c.       Sudut pandang orang ketiga serba tahu, yaitu pengarang berada di luar cerita dan menjadi pengamat yang tahu segalanya, bahkan berdialog langsung dengan pembacanya (ex. dalang).
d.      Sudut pandang orang ketiga terbatas ialah pengarang menjadi pencerita yang tak terbatas hak ceritanya. Ia hanya menceritakan apa yang dialami tokoh yang menjadi tumpuan cerita.

  1. Perwatakan/Penokohan
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa di dalam cerita. Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita.
Untuk menggambarkan karakter tokoh, pengarang dapat menggunakan teknik sebagai berikut:
a.       Teknik analitik, karakter tokoh diceritakan secara langsung oleh pengarang
b.      Teknik dramatik, karakter tokoh dikemukakan melalui:
1)      penggambaran fisik dan perilaku tokoh
2)      penggambaran lingkungan kehidupan tokoh
3)      penggambaran tata kebahasaan tokoh
4)      pengungkapan jalan pikiran tokoh
5)      penggambaran oleh tokoh lain
Berkaitan dengan tokoh, dikenal tokoh utama dan tokoh bawahan.

  1. Alur
Alur merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat.
Secara umum, jalan cerita terbagi dalam bagian-bagian berikut:
a.       pengenalan peristiwa (exposition)
®    pengarang memperkenalkan para tokoh, menata adegan dan hubungan antar tokoh


b.      pengungkapan peristiwa (complication)
® disajikan peristiwa awal yang menimbulkan berbagai masalah, pertentangan, atau pun kesukaran-kesukaran bagi para tokohnya.
c.       menuju pada adanya konflik (rising action)
®  terjadi peningkatan situasi (kegembiraan, kehebohan ataupun bertambahnya kesukaran.
d.      Puncak konflik (turning point)/klimaks
e.       Penyelesaian (ending)
® berisi penjelasan tentang apa yang terjadi pada tokoh setelah mengalami puncak peristiwa.

Puncak konflik

Menuju pada konflik
Penyelesaian
Pengungkapan peristiwa

Pengenalan cerita

Jenis-jenis alur:
a.       Alur Maju/Progresif                : yaitu alur yang peristiwanya berjalan teratur dari awal sampai akhir cerita (urut, runtut)
b.      Alur Mundur/Regresif            :  yaitu alur yang menceritakan peristiwa pada waktu lampau
c.       Alur Sorot Balik/Flash Back   :  yaitu alur yang terjadi karena pengarang mendahulukan bagian akhir cerita dan baru kembali ke awal cerita
d.      Alur Klimaks                           :  alur yang susunan peristiwanya menanjak dari peristiwa biasa meningkat menjadi penting
e.       Alur Antiklimaks                    :  yaitu alur yang susunan peristiwanya makin menurun dari peristiwa penting/menonjol kemudian menjadi kendur dan berakhir dengan peristiwa biasa
f.       Alur kronologis                       :  yaitu alur yang susunan peristiwanya berjalan sesuai dengan urutan waktu

  1. Gaya Bahasa adalah cara atau teknik yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan gagasannya dengan menggunakan bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menciptakan nuansa makna.
Unsur ekstrinsik
Adalah unsur yang membangun/mempengaruhi karya sastra dari luar.
Unsur ekstrinsik dapat meliputi:
a.       Biografi pengarang (latar belakang, pendidikan, kondisi keluarga, jenis kelamin, usia dan sebagainya)
b.      Ideologi yang dianut pengarang/wawasan pengarang terhadap suatu masalah
c.       Agama yang dianut pengarang
d.      Kedudukan pengarang dalam masyarakat
e.       Waktu yang melingkupi karya itu diciptakan (kondisi sosial, ekonomi, politik, tata nilai yang dianut masyarakat, moral, sejarah

Entri Populer