Tentang(mu), Ibu(ku)
untaian kata doa slalu terucap dari mulutmu
kau bangun dalam pohon kesabaran yang slalu rimbun
hijau dan slalu berbuah
mengiring langkahku yang takkan berhenti sampai waktu menentukan
usapan kasih slalu terungkap dari matamu
kau tebar dalam senyum yang tak pernah semu
tulus dan slalu berbinar
memelukku dalam kehangatan cinta yang tiada batas
airmata yang mengucur dari pelupuk matamu
tanda kasihmu yang kekal
meski tanganku lukai rasamu
meski slalu kau dapati bebal
dalam diri yang tak jua mampu
percikkan tawa pengganti kesal
lirih bisikmu
pancing pikirku akan makna tuturmu
meski kadang masuk telinga kanan keluar telinga kiri
tak pernah berhenti kau sampaikan
mutiara kehidupan
Rabu, 31 Agustus 2011
Minggu, 17 Juli 2011
PUISI: Ketika Malam Semakin Larut
Ketika Malam Semakin Larut
Mungkin gelap tidak mau pergi
Menyelimuti bahkan mengurung
Mimpi yang kan tetap menjadi mimpi
Beku
Dalam titik didih
Tanpa batas
Hilang
Tersapu gelisah
Tak menentu
Dan
Kupu-kupu mulai terbang
Merajuk dan merayu
Kerdipkan senyum
Lampu kota kian gemerlap
Tersayup gema
Panggilan alam
Mungkin gelap tidak mau pergi
Menyelimuti bahkan mengurung
Mimpi yang kan tetap menjadi mimpi
Beku
Dalam titik didih
Tanpa batas
Hilang
Tersapu gelisah
Tak menentu
Dan
Kupu-kupu mulai terbang
Merajuk dan merayu
Kerdipkan senyum
Lampu kota kian gemerlap
Tersayup gema
Panggilan alam
PUISI: Ketika Malam Semakin Larut
Ketika Malam Semakin Larut
Mungkin gelap tidak mau pergi
Menyelimuti bahkan mengurung
Mimpi yang kan tetap menjadi mimpi
Beku
Dalam titik didih
Tanpa batas
Hilang
Tersapu gelisah
Tak menentu
Dan
Kupu-kupu mulai terbang
Merajuk dan merayu
Kerdipkan senyum
Lampu kota kian gemerlap
Tersayup gema
Panggilan alam
Mungkin gelap tidak mau pergi
Menyelimuti bahkan mengurung
Mimpi yang kan tetap menjadi mimpi
Beku
Dalam titik didih
Tanpa batas
Hilang
Tersapu gelisah
Tak menentu
Dan
Kupu-kupu mulai terbang
Merajuk dan merayu
Kerdipkan senyum
Lampu kota kian gemerlap
Tersayup gema
Panggilan alam
PUISI: Masih Berjalan
Masih Berjalan
Waktu kian tak mau menunggu
Pada mimpi yang tak tentu
Pada bayang yang mengikutiku
Terus berjalan
Meski arah tak sanggup dan tak mau
Membawaku dalam laju
Deru nafas semu
Merayu
Hentikan langkahku
Pada titik yang tak jua kujemu
Puing berserakan
Memanggil tuk diperhatikan
Silaukan pandangan
Akan masa depan
Dan merpati pun slalu menemaniku
Meski awan gelap menutupi jalanku
Menuntunku
Meski aku tak tahu
Ke mana arah yang ku tuju
Membawa telapak kaki
Berlari
Mengejar mimpi
Waktu kian tak mau menunggu
Pada mimpi yang tak tentu
Pada bayang yang mengikutiku
Terus berjalan
Meski arah tak sanggup dan tak mau
Membawaku dalam laju
Deru nafas semu
Merayu
Hentikan langkahku
Pada titik yang tak jua kujemu
Puing berserakan
Memanggil tuk diperhatikan
Silaukan pandangan
Akan masa depan
Dan merpati pun slalu menemaniku
Meski awan gelap menutupi jalanku
Menuntunku
Meski aku tak tahu
Ke mana arah yang ku tuju
Membawa telapak kaki
Berlari
Mengejar mimpi
PUISI:Kau Jadikan Aku Ada
Kau Jadikan Aku Ada
Malam terus berganti
Melantunkan lagu merdu
Belai kasih dan sayangMu
Dalam gesa yang tak terasa
Dalam deru semangat yang membara
Pembawa hasrat penuhi dunia
Terbang
Melayang
Berenang di antara mega
Hirup wangi bahagia
Tetes peluh tiupkan hidup
Lewat pergumulan batin
Merajuk
Merayu
Bangunkan sukma yang lelap
Bersama desah dan teriak
Malam terus berganti
Melantunkan lagu merdu
Belai kasih dan sayangMu
Dalam gesa yang tak terasa
Dalam deru semangat yang membara
Pembawa hasrat penuhi dunia
Terbang
Melayang
Berenang di antara mega
Hirup wangi bahagia
Tetes peluh tiupkan hidup
Lewat pergumulan batin
Merajuk
Merayu
Bangunkan sukma yang lelap
Bersama desah dan teriak
PUISI: Kau Jadikan Aku Ada
Kau Jadikan Aku Ada
Malam terus berganti
Melantunkan lagu merdu
Belai kasih dan sayangMu
Dalam gesa yang tak terasa
Dalam deru semangat yang membara
Pembawa hasrat penuhi dunia
Terbang
Melayang
Berenang di antara mega
Hirup wangi bahagia
Tetes peluh tiupkan hidup
Lewat pergumulan batin
Merajuk
Merayu
Bangunkan sukma yang lelap
Bersama desah dan teriak
Malam terus berganti
Melantunkan lagu merdu
Belai kasih dan sayangMu
Dalam gesa yang tak terasa
Dalam deru semangat yang membara
Pembawa hasrat penuhi dunia
Terbang
Melayang
Berenang di antara mega
Hirup wangi bahagia
Tetes peluh tiupkan hidup
Lewat pergumulan batin
Merajuk
Merayu
Bangunkan sukma yang lelap
Bersama desah dan teriak
Rabu, 08 Juni 2011
PUISI: LINGKARAN
(Lingkaran)
Terik sambangi terang
melangkah ke peraduan
membawa kemilau cahya
silaukan netra
Tubuhmu menggeliat
terbawa arus keramaian
menjinjing duka
memikul tawa
Semoga tak ada tanya
ke mana perginya
Terik sambangi terang
melangkah ke peraduan
membawa kemilau cahya
silaukan netra
Tubuhmu menggeliat
terbawa arus keramaian
menjinjing duka
memikul tawa
Semoga tak ada tanya
ke mana perginya
PUISI: LINGKARAN
(Lingkaran)
Terik sambangi terang
melangkah ke peraduan
membawa kemilau cahya
silaukan netra
Tubuhmu menggeliat
terbawa arus keramaian
menjinjing duka
memikul tawa
Semoga tak ada tanya
ke mana perginya
Terik sambangi terang
melangkah ke peraduan
membawa kemilau cahya
silaukan netra
Tubuhmu menggeliat
terbawa arus keramaian
menjinjing duka
memikul tawa
Semoga tak ada tanya
ke mana perginya
PUISI: PAK TUA
Pak Tua (2)
Nafasmu tersengal
menahan rintih
akan waktu yang semakin menindih
Langkahmu tak lagi nyaring
kala gesa meradang
"Haruskah kelambu kubelah?"
Memandangmu kian gelisah
terobos senja
kibaskan kabut
"Sudahlah.
Biarkan kami lanjutkan mimpi dan langkahmu."
Sengkarut racun kian mengendap
kikis ketangguhan
sisakan keangkuhan
tenggelamkan kejayaan
Ironi beranjak
menyulap bahkan menginjak
petuah bijak
"Biarkan kami lanjutkan mimpi dan langkahmu."
Nafasmu tersengal
menahan rintih
akan waktu yang semakin menindih
Langkahmu tak lagi nyaring
kala gesa meradang
"Haruskah kelambu kubelah?"
Memandangmu kian gelisah
terobos senja
kibaskan kabut
"Sudahlah.
Biarkan kami lanjutkan mimpi dan langkahmu."
Sengkarut racun kian mengendap
kikis ketangguhan
sisakan keangkuhan
tenggelamkan kejayaan
Ironi beranjak
menyulap bahkan menginjak
petuah bijak
"Biarkan kami lanjutkan mimpi dan langkahmu."
PUISI: USANG
USANG
Nafasmu mulai tersengal
menahan rintih
akan waktu yang semakin menindih
Langkahmu tak lagi nyaring
kala gesa meradang
"Haruskah kelambu kubelah?"
Memandangmu kian gelisah
terobos senja
kibaskan kabut
"Sudahlah,
waktumu kian tipis.
Biarkan kami lanjutkan langkahmu."
Sengkarut racun kian mengendap
kikis ketangguhan
sisakan keangkuhan
tenggelamkan kejayaan
Ironi beranjak
menyulap bahkan menginjak
petuah bijak
Nafasmu mulai tersengal
menahan rintih
akan waktu yang semakin menindih
Langkahmu tak lagi nyaring
kala gesa meradang
"Haruskah kelambu kubelah?"
Memandangmu kian gelisah
terobos senja
kibaskan kabut
"Sudahlah,
waktumu kian tipis.
Biarkan kami lanjutkan langkahmu."
Sengkarut racun kian mengendap
kikis ketangguhan
sisakan keangkuhan
tenggelamkan kejayaan
Ironi beranjak
menyulap bahkan menginjak
petuah bijak
Sabtu, 07 Mei 2011
SASTRA
UNSUR FISIK DAN UNSUR BATIN PUISI
Unsur fisik/bentuk puisi:
1. Diksi (pemilihan kata)
Pemilihan kata : mempertimbangkan maknanya, komposisi bunyinya, kedudukan kata itu dalam hubungannya dengan kata yang lain, serta kedudukan kata dalam satu kesatuan puisi.
® kata konotatif
® mempertimbangkan urutan kata, keindahan dan kekuatan/daya magis
2. Pengimajian
® kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman imajinasi.
® dalam puisi seolah-olah tercipta sesuatu yang dapat didengar, dilihat, ataupun dirasakan pembacanya.
- auditif
- visual
- taktik
- kinestetik
- penciuman
3. Gaya bahasa: bagaimana bahasa yang digunakan oleh penyair dalam puisi.
1) Kata konkret
® berfungsi untuk membangkitkan daya imaji sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar atau merasa apa yang dilukiskan oleh penyair.
2) Bahasa figuratif/Majas: bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara pengiasan, yakni tidak secara langsung mengungkapkan makna.
Majas digunakan penyair untuk menyampaikan perasaan, pengalaman batin, harapan, suasana hati, ataupun semangat hidupnya.
Majas yang sering muncul dalam puisi:
1) Perbandingan/simile: peribahasa kiasan yang memperbandingkan atau menyamakan sesuatu dengan yang lain dengan menggunakan kata pembanding: bagaikan, bak, semisal, seperti, serupa.
2) Metafora: majas perbandingan tanpa menggunakan kata pembanding
3) Alegori: majas yang mengiaskan sesuatu dengan hal lain atau kejadian lain
contoh: Ki Hajar Dewantara dengan kuntum bunga teratai.
4) Personifikasi: majas yang membandingkan wujud atau sifat manusia dengan benda atau konsep abstrak.
4. Rima/Ritma
Rima: pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi
ex: bagian akhir baris
Ritma: pengulangan kata, frase atau kalimat dalam bait-bait puisi.
5. Tipografi: tata wajah, bentuk penulisan, visualisasi (bentuk gambar)
contoh: Tragedi Winka dan Sihka karya Sutardji Calzoum Bachri (tipografi zig zag)
Unsur batin puisi :
a. Tema = pokok persoalan yang akan diungkapkan oleh penyair, penggambaran suasana batin, response terhadap kenyataan. Contoh : tema ketuhanan, kemanusiaan, kritik atau protes social, cinta, dan sebagainya.
b. Amanat = sesuatu (pesan) yang disampaikan penyair dalam puisinya. c. Perasaan = puisi merupakan wakil dari ekspresi perasaan penyair dapat berupa kerinduan, kegelisahan, penyanjungan kepada Tuhan, kekasih, alam.
d. Nada dan Suasana
Nada = Sikap penyair terhadap pembaca.
Contoh : bersikap menasehati, menggurui, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca.
Suasana = keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi yang bersangkutan, akibat psikologis terhadap pembaca.
Contoh :
- Nada duka dapat menimbulkan suasana iba hati
- Nada kritik menimbulkan suasana penuh pemberontakan bagi pembaca
- Nada religious menimbulkan suasana khusyuk.
Jumat, 06 Mei 2011
TATA BAHASA
Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua pola kalimat atau dua klausa atau lebih
- Hubungan antar unsurnya bersifat sederajat/ sama
a. Kalimat majemuk setara penjumlahan (lalu, dan, kemudian) b. Kalimat majemuk pemilihan (atau)
c. Kalimat majemuk pertentangan (tetapi, melainkan)
2. Kalimat majemuk bertingkat
- Hubungan antara unsur-unsurnya tidak sederajat
(induk kalimat dan anak kalimat)
a. Kalimat majemuk bertingkat hubungan waktu ditandai dengan kongjungsi sejak, sewaktu, ketika, setelah, sampai, manakala b. Kalimat majemuk bertingkat hubungan syarat, ditandai dengan konjungsi jika, seandainya, andaikan, asalkan, apabila
c. Kalimat majemuk hubungan tujuan ditandai oleh konjungsi agar, supaya, biar
d. Hubungan konsesif ditandai dengan konjungsi walaupun, meskipun, sekalipun, biarpun, kendatipun sungguhpun.
e. Hubungan perbandingan ditandai dengan konjungsi daripada, ibarat, seperti, bayangkan, laksana, sebagaimana, alih-alih, bak.
f. Hubungan penyebaban ditandai dengan konjungsi sebab, karena, oleh karena.
g. Hubungan akibat ditandai dengan konjungsi sehingga, sampai-sampai, maka
h. Hubungan cara ditandai dengan konjungsi dengan.
i. Hubungan sangkalan, ditandai dengan konjungsi seolah-olah, seakan-akan.
j. Hubungan kenyataan ditandai dengan konjungsi padahal, sedangkan.
k. Hubungan hasil ditandai dengan konjungsi makanya.
l. Hubungan penjelasan ditandai dengan konjungsi bahwa, yaitu
m. Hubungan atributif ditandai dengan konjungsi yang
- Gabungan antara kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat-bersifat 3 kalimat/ klausa.
Contoh : Pekerjaan itu telah selesai ketika kakak datang dan ibu memasak.
TATA BAHASA
Kata Berimbuhan
Kata berimbuhan adalah kata yang telah mengalami proses pengimbuhan (afiksasi)
Jenis-jenis imbuhan: (berdasarkan letak atau posisinya)
a. Prefiks atau awalan adalah imbuhan yang diikatkan di depan bentuk dasar.
Contoh: me(N)-, ber-, di-, ter-, pe(N)-, per-, se-, ke-, maha-
b. Infiks atau sisipan adalah imbuhan yang diikatkan di tengah bentuk dasar.
Contoh: -el-, -em-, -er-
c. Sufiks atau akhiran adalah imbuhan yang diikatkan dibelakang bentuk dasar.
Contoh: -kan, -an, -i, -nya, -wan
d. Konfiks adalah imbuhan yang diikatkan di depan dan belakang bentuk dasar secara bersamaan.
Contoh: ke-an, pe(N)-an, per-an, ber-an, se-nya
TATA BAHASA
Kata Ulang/Reduplikasi
Reduplikasi adalah kata yang mengalami proses perulangan, baik sebagian ataupun seluruhnya dengan disertai perubahan bunyi ataupun tidak.
Jenis-jenis kata ulang:
1. perulangan seluruh bentuk kata dasar/perulangan utuh/dwilingga
a. perulangan kata dasar
contoh: buah-buah, gunung-gunung, lari-lari, pagi-pagi
b. perulangan terhadap kata berimbuhan
contoh: pelajar-pelajar, timbangan-timbangan, kejadian-kejadian
2. perulangan berimbuhan: proses pengulangan yang disertai proses pengimbuhan.
contoh: padi padi-padian
kanak kekanak-kanakan
tinggi setinggi-tingginya
dua kedua-duanya
3. perulangan berubah bunyi: bentuk perulangan disertai perubahan bunyi
contoh: balik bolak-balik
gerak gerak-gerik
sayur sayur-mayur
sorak sorak-sorai
4. perulangan sebagain: terjadi hanya pada sebagian bentuk dasar
contoh: daun dedaunan tamu tetamu
luhur leluhur berkata berkata-kata
pohon pepohonan menali tali-menali
saji sesaji menolak tolak-menolak
Makna kata ulang:
1. banyak tak tentu
contoh: batu-batu, buku-buku, kuda-kuda, dsb. (biasanya kata benda)
2. banyak dan bermacam-macam
contoh: buah-buahan, dedaunan, bunyi-bunyian, pepohonan, dsb.
3. menyerupai dan bermacam-macam
contoh: kuda-kudaan, langit-langit, mata-mata, robot-robotan, mobil-mobilan, dsb.
4. agak atau melemahkan sesuatu yang disebut pada kata dasar
contoh: kebarat-baratan, kehijau-hijauan, malu-malu, sakit-sakitan, kekanak-kanakan, keinggris-inggrisan, dsb.
5. intensitas kualitatif
contoh: keras-keras, kuat-kuat, segiat-giatnya, setinggi-tingginya
6. intensitas kuantitatif
contoh: mengangguk-angguk, berlari-lari, bolak-balik, menggeleng-gelengkan, mondar-mandir, berputar-putar, dsb.
7. makna kolektif
contoh: dua-dua, empat-empat, kedua-duanya, dsb.
8. kesalingan
contoh: pukul-pukulan, bersalam-salaman, berpandang-pandangan, tolong-menolong, dsb.
SASTRA
UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK KARYA SASTRA (PROSA)
Karya sastra dibangun oleh dua unsur penting yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang terkandung di dalam karya sastra (unsur yang membangun karya sastra dari dalam).
Unsur intrinsik terdiri atas:
- Tema
Tema adalah gagasan, ide atau pikiran utama yang digunakan sebagai dasar dalam menuliskan cerita.
Tema merupakan inti atau ide dasar sebuah cerita. Dari ide dasar itulah kemudian cerita dibangun oleh pengarangnya dengan memanfaatkan unsur-unsur intrinsik yang lain (plot, penokohan, latar, dsb).
Tema merupakan pangkal tolak pengarang dalam menceritakan dunia rekaan yang diciptakannya.
ex. Tema masalah kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, pendidikan, dsb.
- Amanat
Amanat merupakan ajaran moral atau pesan didaktis yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan secara tersurat atau tersirat (disimpan rapi dan disembunyikan pengarangnya dalam keseluruhan isi cerita). Untuk dapat menemukan dan memahaminya, tidak cukup dengan membaca dua atau tiga paragraf, melainkan harus membacanya hingga selesai.
- Latar
Latar adalah unsur dalam suatu cerita yang menunjukkan dimana, bagaimana dan kapan peristiwa-peristiwa dalam cerita itu berlangsung.
Ada 3 macam, yaitu:
a. Latar geografis/tempat adalah hal-hal yang berkaitan dengan tempat kejadian.
b. Latar waktu adalah hal-hal yang berkaitan dengan masalah historis (waktu).
c. Latar sosial adalah latar yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat (adat, kebiasaan, suasana, status sosial, dsb).
- Sudut Pandang
Sudut pandang dapat diartikan sebagai posisi pengarang terhadap peristiwa-peristiwa di dalam cerita.
Empat tipe sudut pandang:
a. Sudut pandang orang pertama sentral apabila tokoh sentral dalam cerita adalah pengarang yang secara langsung terlibat dalam cerita.
b. Sudut pandang orang pertama sebagai pembantu adalah sudut pandang yang menampilkan “aku” (pengarang) hanya menjadi tokoh pembantu yang mengantarkan tokoh lain yang lebih penting.
c. Sudut pandang orang ketiga serba tahu, yaitu pengarang berada di luar cerita dan menjadi pengamat yang tahu segalanya, bahkan berdialog langsung dengan pembacanya (ex. dalang).
d. Sudut pandang orang ketiga terbatas ialah pengarang menjadi pencerita yang tak terbatas hak ceritanya. Ia hanya menceritakan apa yang dialami tokoh yang menjadi tumpuan cerita.
- Perwatakan/Penokohan
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa di dalam cerita. Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita.
Untuk menggambarkan karakter tokoh, pengarang dapat menggunakan teknik sebagai berikut:
a. Teknik analitik, karakter tokoh diceritakan secara langsung oleh pengarang
b. Teknik dramatik, karakter tokoh dikemukakan melalui:
1) penggambaran fisik dan perilaku tokoh
2) penggambaran lingkungan kehidupan tokoh
3) penggambaran tata kebahasaan tokoh
4) pengungkapan jalan pikiran tokoh
5) penggambaran oleh tokoh lain
Berkaitan dengan tokoh, dikenal tokoh utama dan tokoh bawahan.
- Alur
Alur merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat.
Secara umum, jalan cerita terbagi dalam bagian-bagian berikut:
a. pengenalan peristiwa (exposition)
® pengarang memperkenalkan para tokoh, menata adegan dan hubungan antar tokoh
b. pengungkapan peristiwa (complication)
® disajikan peristiwa awal yang menimbulkan berbagai masalah, pertentangan, atau pun kesukaran-kesukaran bagi para tokohnya.
c. menuju pada adanya konflik (rising action)
® terjadi peningkatan situasi (kegembiraan, kehebohan ataupun bertambahnya kesukaran.
d. Puncak konflik (turning point)/klimaks
e. Penyelesaian (ending)
® berisi penjelasan tentang apa yang terjadi pada tokoh setelah mengalami puncak peristiwa.

Penyelesaian
Pengenalan cerita
Jenis-jenis alur:
a. Alur Maju/Progresif : yaitu alur yang peristiwanya berjalan teratur dari awal sampai akhir cerita (urut, runtut)
b. Alur Mundur/Regresif : yaitu alur yang menceritakan peristiwa pada waktu lampau
c. Alur Sorot Balik/Flash Back : yaitu alur yang terjadi karena pengarang mendahulukan bagian akhir cerita dan baru kembali ke awal cerita
d. Alur Klimaks : alur yang susunan peristiwanya menanjak dari peristiwa biasa meningkat menjadi penting
e. Alur Antiklimaks : yaitu alur yang susunan peristiwanya makin menurun dari peristiwa penting/menonjol kemudian menjadi kendur dan berakhir dengan peristiwa biasa
f. Alur kronologis : yaitu alur yang susunan peristiwanya berjalan sesuai dengan urutan waktu
- Gaya Bahasa adalah cara atau teknik yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan gagasannya dengan menggunakan bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menciptakan nuansa makna.
Unsur ekstrinsik
Adalah unsur yang membangun/mempengaruhi karya sastra dari luar.
Unsur ekstrinsik dapat meliputi:
a. Biografi pengarang (latar belakang, pendidikan, kondisi keluarga, jenis kelamin, usia dan sebagainya)
b. Ideologi yang dianut pengarang/wawasan pengarang terhadap suatu masalah
c. Agama yang dianut pengarang
d. Kedudukan pengarang dalam masyarakat
e. Waktu yang melingkupi karya itu diciptakan (kondisi sosial, ekonomi, politik, tata nilai yang dianut masyarakat, moral, sejarah
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri Populer
-
LAMPU Seorang pria duduk di teras sambil memandang lampu yang menyala mencermati tetesan hujan yang lewa...
-
Novel PERANG Karya Putu Wijaya: Sebuah Renungan A. Pendahuluan Putu Wijaya (bernama asli I Gusti Ngurah Putu Wijaya) adalah seorang sastr...
-
Perang mimpi tak hanya jadi mimpi kini mereka menyerangku mengerat,mengikis, bahkan menghancurkan ota...
-
SARJANA Mereka bilang hidup perlu tujuan Mereka bilang derajat perlu dinaikkan Sarjana Impian dalam...
-
Ibu Kota Masihkah kau bernyanyi diantara cakar ayam pencengkeram perut kehidupan? Masihkah kau tersipu pada cermin pembelah muka? Sedu ...
-
Pak Tua (2) Nafasmu tersengal menahan rintih akan waktu yang semakin menindih Langkahmu tak lagi nyaring kala gesa meradang "H...
-
LELAH BERDIRI Gurat senja kali ini terhalang pekatnya mendung yang menggelora tak tampak seberkas cah...
-
Patung mendadak aku tak bisa bergerak terperangkap dalam ketakutan merintih pada sebuah tanya tak a...
-
KABUT Mereka datang menyerbu kala pagi merindukan hangatnya mentari menjaganya tetap dalam kesejukan...
-
Ruang Kosong tak sadar aku akan hadirmu dalam duniaku membawa kisah tak terkira mengembara dalam ruang h...