Senin, 13 Februari 2012

PUISI: Pelita


Pelita

tetes embun basuh hening pagi
membongkar kelambu mimpi
memanggil tuk kembali
bergulat dengan hidupmati

peluh tak terasa semakin bungkuk
menahan pikulan yang meringkuk
hanya demi nasi sepuluk
membayang hari nan sejuk

ketika melangkah tanpa arah
dan harapan hamper musnah
mengandung derita kala susah
tinggal rasa yang kian mendesah
dan kelelawar kembali bergelantungan
sisa semalam keluyuran
tidur dalam pelukan
sang penjaga cahya awan
PelitaMu yang tak pernah padam
menuntun
membawaku melewati jalan panjang
menuju  hamparan rerumputan hijau
padang pengharapan

PUISI: Perang

Perang

mimpi tak hanya jadi mimpi
kini mereka menyerangku
mengerat,mengikis, bahkan menghancurkan
otakku yang mulai lelah akan kepercayaan

di mana tiang pancang yang pernah kutancapkan?
tumbang?
ataukah musnah?

aku tak bisa melawan
berdiri pun tak sanggup
memikul beban yang seharusnya tak seberat ini

dan burung pipit hinggap di kepalaku
bernyanyi
mematok
mencabik rambutku yang kian habis

pedih
perih
terperangkap dalam belenggu
menyiksa batin
hentikan nadi

PUISI: Mimpi

Mimpi

daun berguguran menyambut pagi
merangkak dalam hangatnya belaian mentari
bersama kupu-kupu
tebarkan pelangi
menimang sajak dan bernyanyi

kabut hilang berganti
sejukkan mata tanpa noda
di mana dia berdiri
melawan kerasnya dunia

burung-burung menari
pada ranting pendirian
menghias mimpi dan peluh pengharapan
langit cerah membias rona khatulistiwa
membingkai lautan manusia
dalam hiruk pikuk negeri
berpacu dengan ironi

PUISI: Ruang Kosong


Ruang Kosong

tak sadar aku akan hadirmu dalam duniaku
membawa kisah tak terkira
mengembara dalam ruang hampa tak bernyawa
bawakanku anggur dari istana
mengoyak tenang dahagaku
pada larik penawar rindu

ada tanya di sana
menuntunku dalam kebimbangan
ada teka-teki di sana
gelitik ingatanku akan kata

pasir berbisik serakkan tantangan
menari di atas bimbang
bernyanyi dalam kalut

satu titik tak jua jelas
pancangkan pondasi akan mimpi
samar
entah sampai kapan
ruang hampa kan terisi

PUISI: Menuju Ladang


Menuju Ladang

Pagi berkabut menyambut di pintu perjalanan
rerumputan kering, basah terhempas embun
maknai hujan bulan Juni

dingin menusuk tulang
membekas dalam keramaian batas kota

ya,
ranting-ranting kering munculkan kuncup pengharapan
mengubah pupuk pada kerontang pijakan
ada kasih saat mentari tampakkan batang hidungnya
ditemani lagu merdu kicauan alam
tak lagi sepi
meski dingin masih menyelimuti

keranjang dan parang telah siap
gerinda tak mau ketinggalan
mengajak insan perjuangkan hidup

PUISI: Patung


Patung

mendadak aku tak bisa bergerak
terperangkap dalam ketakutan
merintih pada sebuah tanya

tak adil jika aku hanya sendiri
tah bijak semua harus kualami

aku hanya bisa diam
dan merekapun melenggang dalam riuh
mendung yang kian tebal
menyelimuti kebimbangan
menghangatkan kegelisahan

Entri Populer