Selasa, 30 November 2010

PUISI

BAYANGAN

DUDUK DI ANTARA BARISAN SEMAK
YANG MENUTUP DENGAN PENUH SESAK
DIAM SERIBU BAHASA SAJAK
MENTARI MELAYANGKAN SEPAK

MATAMU TAK LAGI PANCARKAN RIANG
HANYA SESAL YANG MASIH TERNGIANG
DALAM HIMPITAN RIBUAN TIANG
YANG MENGANTAR HINGGA KE LIANG

26.11.2010: 08.40

PUISI

BUNGKAM

AKU TAK BISA BERUCAP
HANYA PENA INI YANG TRUS BERJALAN
MENULIS SAJAK CITA ASA
YANG TINGGAL MIMPI BELAKA

PUISI

SABDA PENDITA RATU

DENGAN TERIAKAN LANTANG
KAU SAMPAIKAN SUMPAH SERAPAH
YANG SEBENARNYA TAK PANTAS
TUKKAU UCAPKAN
TAK GUNAKAN HATI
TUK UNGKAP SMUA
HANYA INGINMU SAJA
BERHARAPSLALU DIPENUHI

20.11.2010

PUISI

PERCAYAKAN

SEBENARNYA AKU INGIN BERUCAP
TAPI APA KATA DUNIA
JIKA HANYA JADI SELINGAN
DI ANTARA RUWETNYA PIKIRAN

AKU INGIN TAHU DIRI
DALAM RASA TAK NYAMAN
YANG SEOLAH MENGGURUI
DEMI TUJUAN YANG DIINGINI

PUISI

GAYUNG BERSAMBUT

AKU BILANG INI
KAU JAWAB YA
AKU BILANG ITU
KAU PUN SETUJU
AKU MAU
KAU PUN MAU
AKU TERIAK
KAU PUN IKUT TERIAK

20.11.2010: 10.15

PUISI

***

TERTEGUN DI ANTARA KERAMAIAN
MEMANDANG LANTANG SUARAMU
YANG BEGITU MENGGELEGAR
SEOLAH MEMBELAH BUMI
MELEMPAR SAUH KEMUDIAN
MENCUCI TANGAN

I KNOW THAT YOU HAVE A STRONG POWER

PUISI

SUNYI

JANGKERIK MULAI BERNYANYI
DI ANTARA RIUH DERAS AIR
DALAM PIPA TANPA BATAS
MEMBANGUNKAN ANJING
YANG SEDANG
MEMELUK MIMPI BERSAMA
BULAN
HINGGA BUYAR ANGAN-ANGAN
YANG MULAI TERGAMBAR DI PIKIRNYA
TERBANGUN DAN LARI
DALAM GELAP DAN SEPI
YANG MENEMANI LOLONGAN
DAN JERIYAN MIMPI

24.11.2010: 18.05

PUISI

DALAM PENANTIAN

KUYAKIN KAU KAN DATANG
MEMBAWA KEDAMAIAN HATI
KUYAKIN KAU KAN HADIR
MERSAMA SENYUM KEBAHAGIAAN
KU YAKIN KAU KAN TIBA
DI SAAT YANG SUDAH DITENTUKAN
DALAM POTARAN RODA
YANG TAKKAN BERHENTI

24.11.2010: 18.35

PUISI

TUAN MAHA TAHU

SEMUA JADI MILIKMU
BAHKAN ABU DAN DEBU TAK TERLEWATKAN
DAN YANG LAIN PUN HANYA MELONGO
MELIHAT DAN TERPANA
PADA TOPENG PERIAS MUKA
YANG LUPUT DARI DUSTA

KATANYA

22.11.2010: 21.10

PUISI

SANG MAHA MISTERI

TAK KUSANGKA AKAN SEPERTI INI
JALAN YANG AKHIRNYA KUTEMPUH
TAK KUBAYANGKAN SEBELUMNYA
BERKAT YANG KUDAPAT HINGGA KINI
SEMUA BERASAL DARIMU
SANG MAHA MISTERI
YANG TAK KAN BISA DIPREDIKSI

24.11.2010: 19.00

PUISI

SANG MAHA MISTERI

TAK KUSANGKA AKAN SEPERTI INI
JALAN YANG AKHIRNYA KUTEMPUH
TAK KUBAYANGKAN SEBELUMNYA
BERKAT YANG KUDAPAT HINGGA KINI
SEMUA BERASAL DARIMU
SANG MAHA MISTERI
YANG TAK KAN BISA DIPREDIKSI

24.11.2010: 19.00

PUISI

SAJAK CONGKAK

KETIKA KURASA AKU ADALAH YANG TERBAIK
TAK ADA YANG BISA MENANDINGIKU
SEMUA KUANGGAPSAMPAH
AKULAH SANG SEMPURNA
TAK ADA YANG LEBIH BENAR DARIKU
TAK ADA YANG LEBIH BAIK DARIKU

22.11.2010: 20.35

PUISI

AIR DAN API

YA
KITA BERBEDA
WARNA DAN MASA
TAK ADA RASA SAMA
DI ANTARA KEMBANG KEMPIS BEJANA

22.11.2010: 20.30

PUISI

SOPO WANI

SOPO WANI MRING GENI KANG MULAT-MULAT
ANGOBONG SAKKABEHE TANPA WELAS
SOPO WANI MRING BANYU KANG MILI BANTER
ANGGOWO SAKKABEHE KELI MENYANG SEGORO
SOPO WANI MRING GUSTI
KAN ANDARBENI SAKKABEHE

22.11.2010: 20.50

PUISI

TERSISIH

HARAPKU MEMBUBUNG TINGGI
SAAT KAU SAMPAIKAN BERKAT ITU
YANG MEMBUATKU SEMAKIN BERSEMANGAT
MENYIAPKAN BEKAL TERSIMPAN

LANGKAH PERTAMA BEGITU MENYESAKKAN
BERIKUTNYA BEGITU MENGKHAWATIRKAN
HINGGA MEMBUATKU GUSAR
DAN TERNYATA AKU TERSISIH

24.11.2010

PUISI

SAJAK ADA KALANYA

ADA KALANYA KITA SUSAH
ADA KALANYA KITA BAHAGIA
ADA KALANYA KITA DIRENDAHKAN
ADA KALANYA KITA DITINGGIKAN
ADA KALANYA KITA HARUS DIAM
ADA KALANYA KITA HARUS TERIAK

PUISI

HUJAN

KAU TAK PERNAH BERANI
MENANTANG BUMI INI SENDIRI
SELALU SAJA BERSAMA PASUKAN
YANG TAK MAU KETINGGALAN
MEMBASAHI BUMI YANG KERING
MENDIAMKAN SUARA MELENGKING
MENDUNGUNKAN MALAM YANG KELAM
MENYEJUKKAN HATI YANG PADAM

TAK ADA LAGI GEMURUH YANG MENYIKSA
TINGGALLAH BADAI PEMBAWA DUKA

24.11.2010

ARTIKEL

Novel PERANG Karya Putu Wijaya: Sebuah Renungan

A. Pendahuluan
Putu Wijaya (bernama asli I Gusti Ngurah Putu Wijaya) adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Putu Wijaya lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944. Ia adalah bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, yang semua anggota keluarganya dekat dan jauh, dan punya kebiasaan membaca. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.
Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron. Sebagai seorang dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron.
Cerita pendek karangannya kerap mengisi kolom pada Harian Kompas dan Sinar Harapan. Novel-novel karyanya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Sebagai penulis skenario, ia telah dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai seorang penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan adalah Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, Nyali.
Perang adalah salah satu judul novel karya Putu Wijaya. Novel ini ditulisnya ketika ia menjadi pengajar dan sutradara tamu di Universitas Wisconsin (1985—1988) atas sponsor Fulbright. Novel ini sangat menarik karena didalamnya terdapat perpaduan antara dunia khayalan dan realitas. Tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan digunakan untuk menciptakan dunia khayalan yang dikaitkan dengan realitas yang terjadi dalam masyarakat. Cerita dalam novel ini diungkapkan seolah-olah sebagai sebuah cerita pewayangan yang dipentaskan, seolah-olah ada tiga dunia yakni dunia cerita wayang, dunia dalang, dan dunia penikmat cerita atau penonton pertunjukan wayang. Dalam novel tersebut, pengarang berada di luar cerita dan menciptakan dunia cerita dan dunia dalang. Jadi selain mengungkapkan cerita dengan tokoh-tokoh ciptaannya, pengarang menciptakan satu dunia lagi yaitu dunia dalang sebagai pengarah cerita wayang secara umum.

B. Unsur Pembangun Karya Sastra
Sebuah karya fiksi merupakan sebuah bangun cerita yang menampilkan sebuah dunia yang sengaja dikreasikan oleh pengarang. Stanton membedakan unsur pembangun sebuah karya fiksi ke dalam tiga bagian, yaitu: tema, fakta, dan sarana cerita. Pada bagian ini akan diuraikan secara singkat unsur pebangun novel Perang seperti yang telah disebutkan oleh Stanton.
1. Tema
Menurut Nurgiyantoro (2002: 25), tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita atau ide atau tujuan cerita, sedangkan menurut Stanton (via Supriyadi, 1999: 28), tema adalah makna yang dikandung sebuah cerita. Apa pun definisinya, tema tetap mengangkat berbagai masalah kehidupan atau berhubungan dengan makna pengalaman hidup manusia. Selain itu, tema berfungsi untuk membangun kesatuan pada cerita dan makna pada peristiwa (Stanton, via Supriyadi, 1999: 12).
Berdasarkan tingkat keutamaannya, tema dapat digolongkan menjadi dua, yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah tema utama yang menjadi dasar gagasan umum sebuah cerita. Tema minor adalah makna tambahan. Sebuah cerita pendek hanya memiliki satu tema karena ceritanya yang pendek. Selain itu, cerita pendek lebih terfokus pada satu permasalahan dan satu episode kehidupan tokoh (Stanton, via Supriyadi, 1999: 4).
Berdasarkan penjelasan di atas, secara singkat dapat dijelaskan bahwa bahwa tema dari novel Perang karya Putu Wijaya adalah kekuasaan dan kekuatan bukan merupakan sesuatu yang mutlak menang, tetapi memerlukan sebuah pemikiran yang bijaksana untuk menyelesaikan setiap masalah. Banyak terdapat peristiwa yang dialami oleh tokoh yang diciptakan dalam novel tersebut yang dilanjutkan dengan sebuah kontemplasi atau perenungan sendiri oleh tokoh yang bersangkutan.
2. Fakta Cerita
Fakta cerita sering disebut sebagai struktur faktual atau tahapan faktual. Menurut Stanton (via Supriyadi, 1999: 4), ada tiga bagian yang mendasar dalam karya fiksi, yaitu tokoh (character), alur (plot), dan latar (setting). Akan tetapi, walaupun dibahas secara terpisah, ketiga unsur ini harus dipandang sebagai sebuah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
a. Penokohan (character)
Istilah tokoh menunjuk pada pelaku cerita. Menurut Abrams (1981: 20), tokoh cerita adalah orang (-orang) yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Selain itu, tokoh harus membawa pesan dan amanat yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.
Berdasarkan segi peranan, tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh utama dan tokoh tambahan. Berdasarkan fungsi penampilan, tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh protagonis dan antagonis, sedangkan berdasarkan perwatakannya, tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh sederhana dan tokoh bulat. Berdasarkan berkembang atau tidaknya perwatakan, tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh statis dan tokoh berkembang.
Dalam novel Perang, Putu Wijaya menciptakan tokoh disesuaikan dengan tokoh dalam dunia pewayangan, khususnya tokoh-tokoh dalam keluarga Pandawa dan Kurawa. Tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan digunakan sebagai sebuah cerminan tehadap keadaan masyarakat secara umum. Karakteristik tokoh yang diciptakan atau yang diungkapkan dalam novel tersebut sangat kompleks dan jelas. Satu tokoh mewakili satu karakteristik tersendiri, misalnya tokoh Semar yang memiliki karakteristik bijaksana dalam memutuskan sesuatu, Bima yang gegabah, dan sebagainya.
Selain mengungkakan karakteristik masing-masing tokoh secara jelas, pengarang juga melakukan perbandingan terhadap tooh-tokoh yang ada dalam cerita. Pembandingan tokoh tersebut dilakukan berdasarkan pengetahuan pengarang akan budaya, dalam hal ini cerita pewayangan di Jawa dan di Bali. Tokoh-tokoh yang di pewayangan yang dibandingkan misalnya adalah tokoh Punokawan di Jawa (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) dan Punokawan di Bali yang dipecah menjadi dua.
b. Alur (plot)
Plot adalah keseluruhan sekuen-sekuen peristiwa (Stanton via Supriyadi, 1999: 21). Menurut Luxemburg (1984: 149), alur adalah konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logik dan kronologis saling berkaitan dan yang diakibatkan atau dialami oleh para pelaku. Alur merupakan struktur peristiwa yang terlihat dalam pengurutan dan penyajiannya untuk mendapatkan efek emosional dan efek artistik tertentu (Abrams, 1984: 113).
Novel Perang diceritakan menggunakan alur maju. Sekuen-sekuen cerita diungkapkan secara kronologis, peristiwa-peristiwa diceritakan secara urut dan runtut. Seluruh peristiwa diceritakan secara jelas dan runtut berdasarkan urutan waktu.
c. Latar (setting)
Menurut Stanton (via Supriyadi, 1999: 26), latar adalah lingkungan peristiwa, yaitu dunia tempat terjadinya peristiwa. Latar yang ada dalam cerita pendek tidak memerlukan detil-detil yang khusus. Latar adalah landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa diceritakan (Abrams, 1984: 216). Latar dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial yang saling berkaitan dan mempengaruhi.
1) Latar Tempat
Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi (Nurgiyantoro, 2002: 227). Secara keseluruhan, latar tempat dalam novel Perang diungkapkan secara umum di Amarta, Astina, Karang Tumaritis, dan kayangan. Selain latar khayalan Amarta dan Astina, pengarang juga menggunakan latar disesuaikan dengan dunia nyata, misalnya latar tempat pementasan pewayangan yakni Taman Ismai Marzuki.
2) Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi (Nurgiyantoro, 2002: 230). Latar waktu dalam novel Perang tidak secara tepat dan rinci dijelaskan. Pengarang hanya menjelaskan latar waktu secara umum, misalnya malam hari, siang hari, sore hari, dan sebagainya.
3) Latar Sosial
Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi (Nurgiyantoro, 2002: 233). Sebagai latar sosial novel Perang, diceritakan berupa suasana kehidupan masyarakat di Astina dan Amarta. Diceritakan bahwa ada rencana perang besar dan keadaan masing-masing pihak beserta persoalan-persoalan yang terjadi di dalamnya. Diceritakan pula kebiasaan-kebiasaan yang dialami oleh masing-masing pihak, misalnya kebiasaan rapat atau berunding berkaitan dengan masalah-masalah yang dihadapi.

3. Sarana Cerita
Sarana cerita merupakan cara pengarang untuk menyeleksi dan menyusun bagian-bagian cerita sehingga tercipta karya yang bermakna (Stanton via Supriyadi, 1999: 32).
1. Sudut Pandang (point of view)
Menurut Abrams (1984: 142), sudut pandang mengacu pada cara sebuah cerita dikisahkan yang digunakan pengarang untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita kepada pembaca. Penulis, dalam hal ini Putu Wijaya, menggunakan sudut pandang penceritaan orang ketiga. Pengarang berada di luar cerita dan hanya bersifat sebagai pencerita.
2. Judul
Dalam sebuah karya fiksi, judul mempunyai peranan yang sangat penting. Judul merupakan permasalahan yang disajikan secara ringkas oleh pengarang dalam karya fiksi tersebut. Oleh karena itu, pemilihan judul yang tepat sangat penting dalam karya fiksi agar pembaca dengan mudah menangkap amanat yang hendak disampaikan pengarang. Secara tersurat, judul novel tersebut menceritakan secara langsung peristiwa yang diceritakan. Secara singkat dan padat, judul novel ini menjelaskan peristiwa yang terjadi yaitu sebuah peristiwa peperangan yang dalam cerita diramalkan akan terjadi beberapa waktu yang akan datang.
3. Amanat
Pengarang selalu menyampaikan amanatnya secara tersirat di dalam karyanya. Hal ini menyebabkan pembaca baru memahami amanat yang dikandung dalam sebuah karya fiksi setelah ia selesai membaca dan mengerti isinya. Melalui novel Perang, pengarang hendak menyampaikan amanat bahwa kekuasaan bukanlah suatu kekuatan yang dapat menyelesaikan segala macam permasalahan, perlu didampingi dengan pemikiran yang bijaksana.


C. Novel Perang Sebagai Sebuah Renungan
Persoalan jaman dan kemasyarakatan dari waktu ke waktu dapat mempengaruhi pemilihan tema yang diungkapkan oleh para sastrawan dalam karyanya. Perubahan yang senantiasa terjadi membuat para sastrawan memiliki banyak pilihan untuk menuangkan pikirannya ke dalam karya sastra. Gejala-gejala alam atau segala peristiwa yang terjadi dapat menjadi sebuah inspirasi bagi para sastrawan.
Putu Wijaya sebagai seorang sastrawan yang berasal dari Bali memiliki latar belakang budaya yang kental, terutama budaya wayang. Kuatnya tradisi wayang, memberikan pengaruh terhadap Putu Wijaya dalam menciptakan sebuah karya sastra. Dalam novel Perang, Putu Wijaya mengungkapkan cerita dengan menggunakan imajinasi tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan. Ia berusaha mendekonstruksi kebenaran dalam cerita wayang. Cerita wayang dalam novel ini menjadi wahana dan ruang untuk mengejek tatanan sosial dan politik di Indonesia. Putu wijaya melalui novel ini sengaja mengguncang tatanan sosial yang sangat hierarkis dan menyindir hegomoni politik yang sedang terjadi di Indonesia. Putu Wijaya menjadikan karyanya tersebut sebagai sebuah pencerminan terhadap segala sesuatu yang sedang terjadi pada msa karya tersebut dibuat. Apa yang ia lihat, ia rasakan, dan ia pikirkan dituangkannya dalam karya tersebut.
Dalam fiksi Indonesia, aktualisasi wayang memiliki setidaknya tiga fungsi antar lain: sebagai rujukan kultural, sebagai alat penyampai humor dan kritik, serta sarana berekspresi. Berdasarkan uraian singkat di atas, wayang dalam novel Perang berfungsi sebagai sarana pengungkapan humor dan kritik. Humor dan kriik yang diungkapkan oleh Putu Wijaya dalam novelnya tersebut disampaikan kepada para pemimpin bangsa Indonesia. Dalam karyanya tersebut banyak sekali diungkapkan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemimpin tanpa berpikir panjang akan akibat yang nantinya terjadi. Hal ini diungkapkan untuk mengkritik penguasa yang hanya menggunakan kekuasaannya untuk melakukan segala keinginannya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Banyak hak masyarakat yang tertindas dan terlupakan.
Dalam novel Perang, aktualisasi cerita wayang dilakukan dengan tambahan cerita dan tokoh yang sengaja dikreasikan oleh pengarang. Selain mempertahankan pakem atau standar cerita pewayangan, pengarang juga melakukan penambahan dan pencampuradukan cerita antara cerita yang ada dalam dunia pewayangan dengan cerita yang ada di luar cerita pewayangan. Secara sepintas, tindakan tersebut mengakibatkan anggapan tidak masuk akal karena tokoh yang ada dalam dunia wayang dicampuradukkan dengan tokoh yang berada di luar cerita pewayangan. Seakan-akan hal tersebut tidak mungkin terjadi dalam dunia nyata.
Pakem cerita pewayangan dalam novel ini juga mengalami perkembangan atau sedikit perubahan. Tokoh-tokoh yang ada dalam cerita ini—khususnya tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan—diungkapkan dengan jelas disertai dengan perenungan akan dirinya sendiri, misalnya Arjuna yang merenung akan dirinya yang dikenal sebagai pria sejuta pesona di hadapan wanita atau bisa disebut sebagai playboy, tokoh Bima dengan kekuatannya, tokoh semar dengan caranya mendidik anak dan membantu di pemerintahan, dan sebagainya. Karakter pakem dari masing-masing tokoh masih tetap dipertahankan, akan tetapi sebagian karakter yang lain merupakan penyimpangan dari karakter pakem itu sendiri.
Selain dari sisi originalitas (pakem) cerita wayang yang dikembangkan, hal lain yang menarik dari novel ini adalah cara penyampaian cerita. Seperti dikemukakan pada bagian terdahulu, novel ini diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga. Pengarang hanya berperan sebagai pencerita atau dengan kata lain berada di luar cerita. Keunikan cerita ini terletak pada model penceritaan cerita di dalam cerita, atau sebuah cerita yang terbungkus oleh cerita lain yang saling berhubungan. Cerita wayang beserta penyimpangan yang terjadi diceritakan secara panjang lebar dalam sebuah bungkus yang berupa cerita pula yakni cerita pementasan wayang.
Novel ini banyak mengandung kritikan terhadap proses pemerintahan yang terjadi di Indonesia. Banyak masalah yang terjadi pada masa novel ini tercipta, diantaranya:
• semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme
• pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan daerah sebagian besar disedot ke pusat
• munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan pembangunan, terutama di Aceh dan Papua
• kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya
• bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya dan si miskin)
• kritik dibungkam dan oposisi diharamkan
• kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang dibreidel
• penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain dengan program "Penembakan Misterius" (petrus)
• tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden selanjutnya)
Dari berbagai masalah tersebut pengarang menuangkannya dalam sebuah cerita. Peristiwa-peristiwa dan permasalahan-permasalahan dikaburkan sehingga seakan menjadi sebuah guyonan. Akan tetapi, apabila dikaji atau dipahami lebih mendalam, guyonan tersebut merupakan sebuah kritikan terhadap apa yang terjadi di Indonesia semasa novel tersebut diciptakan, terlebih menyoroti masalah kekuasaan.

D. Kesimpulan
Novel Perang merupakan salah satu karya besar yang lahir dari kemampuan seorang sastrawan bernama Putu Wijaya dalam sejarah perkembangan sastra di Indonesia. Sebagai sebuah karya yang lahir berdasrkan inspirasi budaya wayang yang kuat. Karya ini menjadi sebuah hiburan baru bagi kalangan pembacanya karena menampilkan cerita yang tidak terpaku pada pakem dunia wayang. Lakon cerita yang ditampilkan dalam karya ini merupakan pencerminan dari keadaan yang sedang terjadi dalam dunia nyata yang diungkapkan dengan humor. Humor dalam novel ini dilakukan bukan tanpa alasan. Humor dalam novel ini digunakan untuk melakukan kritik terhadapa roda pemerintahan yang sedang terjadi di Indonesia. Banyak terjadi peristiwa atau keputusan yang diambil hanya berdasarkan kekuasaan tanpa memperhatikan keadaan kenyataan dalam masyarakat. Novel ini mejadi sebuah kontempasi atau perenungan dan membawa pesan—terutama bagi pera pemimpin—untuk selalu menggunakan kearifan berpikir untuk memutuskan atau melaksanakan segala sesuatu agar tidak merugikan kaum atau orang-orang yang berada dalam kekuasaannya.














REFERENSI:
Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Efendi, Anwar. 2003. “Aspek-Aspek Inkonvensional dalam Novel Putu Wijaya” dalam Diksi. Yogyakarta: FBS UNY.
http://id.wikipedia.org/wiki/Putu_Wijaya
http://jurnal-humaniora.ugm.ac.id/download/120920060932-burhan.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia_(1968-1998)
Luxemburg, Jan van, Mieke Bal, dan Willem G. Weststeijn. 1984. Pengantar Ilmu Sastra (terj. Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia.
Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Widarmanto, Tjahjono. 29 September 2007. “Wayang dan Sastra Indonesia Mutakhir”. Suara Karya Online.
Stanton, Robert. 1999. Dasar-dasar Teori Fiksi Robert Stanton (terj. Supriyadi). Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Tidak diterbitkan.
Wijaya, Putu.2002. Perang. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti



(26 Juli 2009)

PUISI: Mimpi Seekor Jangkerik

Mimpi Seekor Jangkerik

Aku hanya ingin bernyanyi
Dengan tarian sayapku yang merdu
Dengan jentikan kakiku
Yang membawaku melompat jauh
Dalam gelap malam yang syahdu

Aku hanya ingin mengisi waktu
Kala malam berteman kesunyian
Kala gelap berteman kesenduan

Aku hanya ingin memberikan warna
Pada diam yang tak tergoyahkan
Pada kerlip bintang yang tersenyum padaku

28.11.2010: 20.00

CERPEN

CERPEN

Mitro Nggedebus
“Sudah dibuat semua brosurnya?” kata Pak Mitro kepada Bagong, ajudan kepercayaannya. Saat ini ia sedang semangat untuk mengikuti pemilihan Lurah di desanya. Segala cara digunakanya untuk mempopulerkan namanya. Mulai dari kertas selebaran, baliho, hingga iklan melalui radio dan televisi lokal. Semua janjinya dipaparkan melalui media-media tersebut. Mulai dari perbaikan ekonomi, sekolah gratis, hingga pemberian jatah uang untuk warga miskin. Entah berapa dana yang telah dihabiskannya untuk semua itu. Dasar orang kaya, tidak pernah merasa bingung dengan uang. Asalkan senang, berapapun kocek harus dikeluakan, dengan mudah ia sediakan. Ia adalah seorang saudagar tembakau. Ia mewarisi kemampuan dan keuangan dari mendiang kakeknya yang dulu juga adalah seorang juragan tembakau. Hidupnya serba kecukupan, bahkan berlebihan.
“Sudah saya sebarkan semua Pak. Mulai dari pasar, perempatan-perempatan, sampai sekolah-sekolah sudah saya jamah. Saya kirim semua orang terbaik yang kita miliki.” Bagong menjelaskan dengan menggebu-gebu. Dia merasa optimis bahwa semua orang yang telah diberi brosur atau melihat iklan Pak Mitro pasti akan memilihnya. “Semua radio dan televisi lokal sudah saya hubungi. Semua siap membantu, mereka sudah berjanji. Tinggal sekarang dananya, mereka minta dana yang mereka perlukan untuk menyiarkan materi iklan. Mereka meminta kekurangannya, kemarin kan baru DPnya”. Pak Mitro buru-buru menuju ke kamar untuk mengambil kertas cek. Ia sibuk melihat rincian dana yang belum sempat diberikan. Sambil memegang pulpen, ia menulis nominal uang dalam cek dan menandatanganinya. “Ini sudah saya buatkan cek. Tolong kamu antarkan ke kantor masing-masing radio dan televisi.” Ungkapnya kepada Bagong.
Hiruk pikuk persaingan dilakukan. Segala cara digunakan, baik jujur maupun cara curang. Ini sudah biasa dalam proses pemilihan. Sudah menjadi rahasia umum. Tidak menjadi masalah karena sudah tahu sama tahu.
***
Sore itu Pak Mitro mengadakan rapat. Rapat diikuti oleh para kader yang telah bersusah payah membantu mencari massa baginya. Selain untuk silaturahmi, rapat itu diadakan untuk melakukan pemantapan dan pembagian tugas dalam memantau perolehan suara di TPS-TPS yang ada.
“Bagaimana? Kemarin hasilnya bagaimana? Saya kan sudah menargetkan setiap kader minimal bisa memastikan 30 suara untuk saya. Bagaimana?” teriak Pak Mitro ketika memimpin pertemuan itu. Kader-kader yang ada sebelunya disebar ke setiap daerah pemilihan. Mereka diberikan beban untuk mencari dan mengumpulkan minimal 30 suara. “Siap Pak, semua sudah tercover.” kata salah saru koordinator kader. “Iya Pak.” semua kader berteriak membenarkan.
Waktu beranjak semakin malam, suasana menjadi semakin ramai. Ada hiburan dangdut, ada banyak makanan, bahkan pesta itu semakin malam semakin besar. Semua hidangan dikeluarkan tanpa henti. Satu habis, yang lainnya dikeluarkan. Saling susul sampai semua peserta pertemuan itu kekenyangan.
“Ini adalah malam terakhir kita. Saya sudah pasti jadi to. Saya percayakan kepada kalian semua proses dan hasilnya. Oke!” kata Pak Mitro. “Siap Pak, kami yakin!” kata Bagong setelah mendengarkan penjelasan dari beberapa koordinator kader. “Oke, saya percaya kepada kalian. Saya harap kalian memberikan yang terbaik untuk saya. Masalah uang, gampang. Ini ada sedikit, silahkan kalian bagi rata sesuai dengan hak dan kewajibannya. Jangan saling iri, semua kan sudah diatur to sama panitia kita kemarin. Kalau besok saya benar-benar jadi, kita adakan pesta lagi dan akan saya tambah lagi bagiannya, untuk semuanya saja. Sekarang kita puaskan pesta kita ini. Kita tirakat sambil menunggu besok waktunya memilih.
Pagi menjelang, satu per satu peserta pertemuan pulang. “Silahkan kalau mau pulag dulu. Tapi jagan lupa ya, kalian masih punya tugas untuk nanti memantau perolehan suara.” kata pak Mitro. Sekarang tinggal Pak Mitro dan keluarganya serta Bagong—sang ajudan yang senantiasa setia mendampingi Pak Mitro—yang ada di rumah itu. Ruangan utama tempat pertemuan semalam masih berantakan. Sampah-sampah masih berserakan. Belum ada yang membersihkan. Semua merasa capek setelah melakukan tirakat. Pak Mitro sendiri kemudian langsung menuju kamar tidurnya untuk melepas lelah. Bu Mitro dan dua anaknya masih bingung harus diapakan sampah yang ada itu. Dengan nada kasihan Bagong berkata “Tidak usah bingung Bu. Nanti biar saya suruh Pak Mardi membersihkan semua ini. Ibu dan Bapak serta anak-anak istirahat saja. Nanti bilang sama Bapak saja untuk menyiapkan uang untuk membayar Pak Mardi, sekalian kalau masih ada sisa makanan semalam dikumpulkan saja biar nanti saya kasihkan dia dari pada tidak dimakan.
Jam sembilan pagi Pak Mitro sudah dijemput oleh panitia pemilihan tingkat desa. Belum cukup istirahat sudah diminta melaksanakan agenda keliling TPS besama calon yang lainnya. Naik mobil polisi, duduk dibelakang, seperti tersangka tindak kriminal yang tertangkap. Bersama panitia tingkat desa unjuk muka dengan para pemberi suara di TPS-TPS yang ada.
Setelah selesai berkeliling, kira-kira jam dua belas siang, tepat satu jam sebelum waktu pemilihan ditutup, Pak Mitro bersama keluarga datang ke TPS di kampungnya untuk menggunakan hak suaranya. Dengan gagah berani Pak Mitro menggandeng istrinya memasuki tempat pemungutan suara. Anak-anak menyusul di belakangnya. Mereka semua datang ke TPS naik Honda Jass. Pak Mitro yang pegang kemudi sendiri. Tidak ada sopir yang biasanya membawa mereka kemana-mana karena sedang pulang kampung. Ada salah satu keluarganya yang sedang punya hajatan.
Pak Mitro dan keluarganya menyalami semua orang yang hadir di TPS. Dengan penuh kebanggaan dia menyalami para panitia PPS di kampunya sambil bertanya, “Bagaimana, semua aman terkendali? Semua warga yang punya hak pilih sudah menggunakan hak pilihnya?”. Pak Sugeng menjawab, “Semua aman terkendali. Sudah sekitar 90% warga menggunakan hak pilihnya. Yang belum mungkin sedang bekerja dan mungkin akan segera meluncur ke tempat ini, ini kan sudah jam istirahat Pak”. Pak Sugeng adalah Ketua PPS di kampung Pak Mitro.
Seluruh panitia PPS di tempat itu mulai sibuk lagi. Waktu menunjukkan pukul 12.45 WIB, masih tersisa 15 menit lagi proses penggunaan hak suara. Mereka mulai sibuk menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan untuk mengitung suara yang akan dilakukan mulai tepat pukul 13.00 WIB dan mengumumkan melalui pengeras suara bahwa waktu menggunakan hak suara masih ada 15 menit. Pak Mitro pulang bersama anggota keluarga yang lain. Menyiapkan diri menerima hasil perolehan suara. Ia sudah menyebarkan seluruh orang kepercayaan dan juga kader untuk memantau penghitungan suara di tiap-tiap TPS.
“Sumitro,” terdengar suara dari TPS. Penghitungan suara sudah dimulai. Sekarang memang sudah menunjukkan jam satu siang lebih sedikit. Sayup-sayup terdengar suara menyebut nama Pak Mitro berulang-ulang dari TPS. Sambil istirahat di rumah, Pak Mitro menunggu kabar dari orang yang telah ia sebar. “Bu, anak-anak sudah pada tidur? Mereka kelihatan masih capek. Kalau belum tidur, suruh saja mereka tidur dulu sambil menunggu kabar dari orang-orang kepercayaan Bapak.” Ujar Pak Mitro kepada Bu Mitro. “Ya Pak. Mereka masih di dapur, belum selesai makan. Biar diselesaikan dulu makannya, nanti biar Ibu yang nyuruh mereka tidur.” jawab Bu Mitro.
Pak Mitro dan Bu Mitro duduk-duduk di teras depan sambil menunggu kabar perolehan suara. “Bagaimana ini Pak? Kita sudah mengeluarkan banyak uang. Apa nanti Bapak pasti jadi?” tanya Bu Miro. “Kalau masalah uang, jangan dipikirkan. Nah, kalau masalah jadi atau tidak, kita harus optimis. Aku kan sudah pernah bilang, semua kupercayakan sama ereka yang sudah kukasih uang dan mereka juga sudah yakin kita pasti menang. Coba bayangkan, kalau nanti kita menang, semua uang kita pasti akan terganti semasa aku masih menjabat. Jadi jangan kuatir.” Pak Mitro berbicara serius. “Tapi kan bisa saja mereka bohong. Yang ibu khawatirkan, Bapak nanti kalah. Trus bagaimana kita mengembalikan modal yang sudah keluar?” Bu Mitro kembali bertanya. “Sudah lah, jangan pikikan hal itu lagi. Kita harus optimis, kita pasti menang.” ungkap Pak Mitro dengan penuh percaya diri.
Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB. Pak Mitro masih duduk-duduk di teras depan rumah. Satu per satu kader berdatangan dengan membawa hasil pantauan perolehan suara. Hampir di setiap TPS, Pak Mitro mendapatkan suara mayoritas. Hanya d beberapa TPS yang juga ada calon Lurah yang lain saja yang tidak mendapatkan suara banyak. Setelah hasil pantauan itu direkap, hasilnya memuaskan. Pak Mitro mendapatkan suara tebayak. Dari 5.678 total suara, ia mendapatkan 3.456 suara. Sudah lebih dari 50%. Ia kemudian menyuruh Bagong untuk mengecek perolehan suara yang telah direkap di Kelurahan. Ternyata benar, Pak Mitro mendapatkan suara terbanyak, 3.453 suara, hanya selisih 3 suara dari yang telah direkap oleh para kadernya. Mungkin tadi hanya salah hitung.
Sebelumnya, PPS tingkat Kelurahan sudah merekap semua data suara yang masuk dan memang Pak Mitro yang mendapatkan suara terbanyak. PPS Kelurahan sudah mengirimkan wakilnya kepada masing-masing calon. Mereka diperintahkan untuk memberitahukan kepada seluruh calon untuk menerima apa yang terjadi sebagai hasil pemungutan suara yang sudah dilakukan. Hanya saja saat itu mereka belum diberi tahu berapa suara yang mereka peroleh. Tepat pukul 18.00 WIB mereka baru diberitahu berapa perolehan suara yang diperoleh masing-masing calon.
“Tuh kan Bu, kita pasti menang. Aku kan sudah memilih orang-orang yang mampu membantu kita. Semua pasti beres. Kita tinggal kasih imbalan ke mereka saja.” kata Pak Mitro dengan penuh kepercayaan diri. Satu per satu tetangga datang ke rumah Pak Mitro untuk memberikan selamat. Tak luput para kader yang tadi sudah bekerja memantau perolehan suara. Mereka berkata “Kapan Pak kita adakan pesta lagi, syukuran gitu. Kan kita sudah berhasil memenangkan pemilihan. Dan juga, jangan lupa janji Bapak kepada kami.” Pak Mitro menjawab, “Kita adakan pesta syukuran besok sore, silahkan kasih tahu semua yang telah membantu saya, khususnya semua kader, agar besok datang ke sini lagi. Masalah janji saya kemarin, saya pasti tidak lupa. Makanya kita kumpul besok untuk pesta kecil-kecilan dan saya akan bagikan bonus untuk kalian semua.”
Hari semakin larut, Pak Mitro terlelap dalam kelelahannya. Malam itu, rumah Pak Mitro terlihat lengang. Semua kelelahan, hingga tak ada satupun kegiatan. Bahkan, Bagong pun ikut kelelahan dan istirahat di kamanya.
***
Dewa siang mulai nampak di ufuk timur. Seluruh warga sudah mulai beraktivitas. Pak Mitro dan keluarga pun sudah mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk pesta syukuran yang akan diadakan nanti malam. Semua sibuk, tak terkecuali Bagong. Bagong menjadi sangat sibuk karena disuruh kesana kemari untuk memesan berbagai hal yang diperlukan. Mulai dari makanan, minuman, hingga hiburan yang akan disiapkan. Semua dana sudah disiapkan. Dasar orang kaya, tak ada yang tak bisa buatnya.
Sore pada hari yang sama, pesta dimlai pukul 18.00 WIB. Semua kader dan orang kepercayaan datang. Bukan datang sendiri, mereka diminta untuk membawa serta istri dan anak mereka. Pesta yang pada awalnya diprediksikan akan sederhana menjadi sebuah pesta besar. Begitu banyak orang yang datang. Tapi semua sudah dipersiapkan, semua sudah ada. Makanan dan minuman sudah diatur oleh pihak catering yang dipesan. Hiburan, Pak Mitro sekali lagi memesan organ tunggal yang ternama di daerahnya. Sudah sejak awal terus bernyanyi. Bahkan ada juga yang nyawer penyanyinya.
Pesta yang sediakalanya dilaksanakan untuk syukuran karena perolehan suara Pak Mitro sudah ditetapkan menjadi yang terbanyak dan menjadi calon Lurah terpilih menjadi sangat ramai. Bahkan mungkin melebihi pesta yang terdahulu. Sudah seperti syukuran karena sudah jadi Lurah. Semua warga setempat juga diminta datang sehingga rumahnya menjadi seperti pasar malam yang tak berhenti-berhenti.
***
Dua bulan berlalu, Pak Mitro mempersiapkan diri untuk menjalani pelantikan Lurah. Ada rasa gugup, tapi ada juga rasa senang. Akhirnya dilantik juga jadi lurah. Semua yang dikeluarkan akan segera tergantikan, pikirnya. Tak hanya Pak Mitro yang sibuk, Bu Mitro dan anak-anaknya pun ikut bingung mempersiapkan segala sesuatunya. Bagong menjadi orang yang paling sibuk seperti biasa kalau Pak Mitro sedang punya hajat. Dia disuruh kesana kemari untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Sampai-sampai, dia juga disuruh menjadi sopir karena sopir Pak Mitro sejak pemilihan dulu belum kembali lagi. Mungkin sudah bosan karena hanya disuruh-suruh.
Pak Mitro semakin gugup ketika memasuki ruang sidang. Di tempat itu akan dilakukan serah terima jabatan dan sumpah jabatan bagi pejabat baru, Pak Mitro. “Sudah siap Pak Mitro? Kalau sudah, segera saja kita mulai serah terima ini.” kata pemimpin sidang. “Ya, saya sudah siap, lebih cepat lebih baik.” Jawab Pak Mitro. Segera saja setelah jawaban itu diungkapkan, acara dimulai. Pejabat Lurah lama dan Pak Mitro duduk berdampingan. Menunggu diminta berjabat tangan sebagai simbol penyerahan jabatan yang akhirnya dlakukan juga.
Setelah penyerahan jabatan, dengandisaksikan oleh peserta sidag dan ada juga beberapa wartawan yang datang meliput, Pak Mitro disumpah. Sumpah jabatan Lurah. Dan meriahlah suasana dengan riuh rendah tepuk tangan para peserta sidang. Semua bersalaman dengan Pak Mitro dan mengucapkan selamat. Mulai hari itu juga Pak Mitro resmi menjadi Lurah di desanya dan mulai hari itu juga Pak Mitro bekerja. Jadi, setelah tadi disumpah, Pak Mitro langsung melaksanakan tugasnya sebagai Lurah.
***
Satu tahun pertama masa jabatan Pak Mitro semuanya terlihat lancar. Semua kepentingan warga dilayani dengan baik. Tak ada satu pun yang terlewakan. Aka tetapi, ada sesuatu yang menjadi ganjalan para warga. Secara diam-diam, warga menghimpun kekutan. Mereka bermusyawarah secara diam-diam utuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Mereka melihat ada kejanggalan dalam laporan pertanggungjawaban keuangan tahunan. Banyak dana yang hilang entah kemana. Usut punya usut, ternyata Pak Mitro menggunakannya untuk mengganti uang yang telah ia gunakan dalam proses pemilihan dulu.
Setelah mendapatkan bukti yang kuat. Semua warga melakukan demo meminta Pak Mitro turun dari jabatan Lurah. Mereka juga mendapati bahwa janji-janji yang digembor-gemborkannya dulu tidak dipenuhi. Janji-janjinya hanya digunakan untuk membujuk warga supaya memilihnya. Kemarahan warga menjadi semakin besar. Bahkan hampir saja rumah Pak Mitro menjadi sasaran amuk massa. “Mitro nggedebus, Mitro pembohong, turun kau Mitro.” teriak para warga. Keadaan itu semakin memburuk, banyak wartawan yang datang utuk meliput. Berita itu menjadi tersebar ke mana-mana.
Atas bantuan pihak kepolisian, rumah Pak Mitro dijaga ketat agar amuk massa tidak melakukan perusakan. Seluruh anggota keluarga Pak Mitro diungsikan ke luar kota. Warga tetap mendesak. Mereka melaporkan apa yang mereka temukan ke pengadilan. Masalah itu menjadi santapan publik dan sudah dibawa ke meja hijau.
Sidang terus berlanjut. Mulai dari tahap penyidikan oleh pihak kepolisian sampai pemutusan hukuman. Pak Mitro terbukti melakukan korupsi. Pada saat itu juga Pak Mitro diberhentikan dengan tidak hormat sebagai Lurah. Selain itu, Pak Mitro juga ditahan di sel. Sampai-sampai, karena malu, semua harta miliknya yang tidak disita dijual oleh istrinya untuk tinggal di luar kota. “Dasar Mitro nggedebus, pembohong. Hanya karena kaya dia bisa jadi Lurah. Tapi, setelah jadi Lurah, kelakuannya kok kayak gitu. Terima sendiri akibatnya. Pemimpin kok hanya memikirkan dirinya sendiri, mana rasa kebangsaanmu? Tega nian wargamu kau manfaatkan.” ujar salah seorang warga yang merasa kecewa dengan Pak Mitro.

Sabtu, 27 November 2010

PUISI

Elegi Pagi Ini

Engkau masih bertanya bagaimana kabarku
Kabar di antara simpang siur abu dan debu
Yang sempat melumpuhkan bumiku
Dan aku kan tetap menjawab dengan sendu
Alamku kan kembali seperti dulu
Tapi kulihat pilu dalam tanyamu
Mata sayu takkan dapat menipuku
Bahwa dalam benakmu tersirat haru
Berharap sesuatu kan menjadi syahdu
Yang hingga kini tak kau temu
(26.11.2010/08.50)

Entri Populer