Selasa, 30 November 2010

CERPEN

Mitro Nggedebus
“Sudah dibuat semua brosurnya?” kata Pak Mitro kepada Bagong, ajudan kepercayaannya. Saat ini ia sedang semangat untuk mengikuti pemilihan Lurah di desanya. Segala cara digunakanya untuk mempopulerkan namanya. Mulai dari kertas selebaran, baliho, hingga iklan melalui radio dan televisi lokal. Semua janjinya dipaparkan melalui media-media tersebut. Mulai dari perbaikan ekonomi, sekolah gratis, hingga pemberian jatah uang untuk warga miskin. Entah berapa dana yang telah dihabiskannya untuk semua itu. Dasar orang kaya, tidak pernah merasa bingung dengan uang. Asalkan senang, berapapun kocek harus dikeluakan, dengan mudah ia sediakan. Ia adalah seorang saudagar tembakau. Ia mewarisi kemampuan dan keuangan dari mendiang kakeknya yang dulu juga adalah seorang juragan tembakau. Hidupnya serba kecukupan, bahkan berlebihan.
“Sudah saya sebarkan semua Pak. Mulai dari pasar, perempatan-perempatan, sampai sekolah-sekolah sudah saya jamah. Saya kirim semua orang terbaik yang kita miliki.” Bagong menjelaskan dengan menggebu-gebu. Dia merasa optimis bahwa semua orang yang telah diberi brosur atau melihat iklan Pak Mitro pasti akan memilihnya. “Semua radio dan televisi lokal sudah saya hubungi. Semua siap membantu, mereka sudah berjanji. Tinggal sekarang dananya, mereka minta dana yang mereka perlukan untuk menyiarkan materi iklan. Mereka meminta kekurangannya, kemarin kan baru DPnya”. Pak Mitro buru-buru menuju ke kamar untuk mengambil kertas cek. Ia sibuk melihat rincian dana yang belum sempat diberikan. Sambil memegang pulpen, ia menulis nominal uang dalam cek dan menandatanganinya. “Ini sudah saya buatkan cek. Tolong kamu antarkan ke kantor masing-masing radio dan televisi.” Ungkapnya kepada Bagong.
Hiruk pikuk persaingan dilakukan. Segala cara digunakan, baik jujur maupun cara curang. Ini sudah biasa dalam proses pemilihan. Sudah menjadi rahasia umum. Tidak menjadi masalah karena sudah tahu sama tahu.
***
Sore itu Pak Mitro mengadakan rapat. Rapat diikuti oleh para kader yang telah bersusah payah membantu mencari massa baginya. Selain untuk silaturahmi, rapat itu diadakan untuk melakukan pemantapan dan pembagian tugas dalam memantau perolehan suara di TPS-TPS yang ada.
“Bagaimana? Kemarin hasilnya bagaimana? Saya kan sudah menargetkan setiap kader minimal bisa memastikan 30 suara untuk saya. Bagaimana?” teriak Pak Mitro ketika memimpin pertemuan itu. Kader-kader yang ada sebelunya disebar ke setiap daerah pemilihan. Mereka diberikan beban untuk mencari dan mengumpulkan minimal 30 suara. “Siap Pak, semua sudah tercover.” kata salah saru koordinator kader. “Iya Pak.” semua kader berteriak membenarkan.
Waktu beranjak semakin malam, suasana menjadi semakin ramai. Ada hiburan dangdut, ada banyak makanan, bahkan pesta itu semakin malam semakin besar. Semua hidangan dikeluarkan tanpa henti. Satu habis, yang lainnya dikeluarkan. Saling susul sampai semua peserta pertemuan itu kekenyangan.
“Ini adalah malam terakhir kita. Saya sudah pasti jadi to. Saya percayakan kepada kalian semua proses dan hasilnya. Oke!” kata Pak Mitro. “Siap Pak, kami yakin!” kata Bagong setelah mendengarkan penjelasan dari beberapa koordinator kader. “Oke, saya percaya kepada kalian. Saya harap kalian memberikan yang terbaik untuk saya. Masalah uang, gampang. Ini ada sedikit, silahkan kalian bagi rata sesuai dengan hak dan kewajibannya. Jangan saling iri, semua kan sudah diatur to sama panitia kita kemarin. Kalau besok saya benar-benar jadi, kita adakan pesta lagi dan akan saya tambah lagi bagiannya, untuk semuanya saja. Sekarang kita puaskan pesta kita ini. Kita tirakat sambil menunggu besok waktunya memilih.
Pagi menjelang, satu per satu peserta pertemuan pulang. “Silahkan kalau mau pulag dulu. Tapi jagan lupa ya, kalian masih punya tugas untuk nanti memantau perolehan suara.” kata pak Mitro. Sekarang tinggal Pak Mitro dan keluarganya serta Bagong—sang ajudan yang senantiasa setia mendampingi Pak Mitro—yang ada di rumah itu. Ruangan utama tempat pertemuan semalam masih berantakan. Sampah-sampah masih berserakan. Belum ada yang membersihkan. Semua merasa capek setelah melakukan tirakat. Pak Mitro sendiri kemudian langsung menuju kamar tidurnya untuk melepas lelah. Bu Mitro dan dua anaknya masih bingung harus diapakan sampah yang ada itu. Dengan nada kasihan Bagong berkata “Tidak usah bingung Bu. Nanti biar saya suruh Pak Mardi membersihkan semua ini. Ibu dan Bapak serta anak-anak istirahat saja. Nanti bilang sama Bapak saja untuk menyiapkan uang untuk membayar Pak Mardi, sekalian kalau masih ada sisa makanan semalam dikumpulkan saja biar nanti saya kasihkan dia dari pada tidak dimakan.
Jam sembilan pagi Pak Mitro sudah dijemput oleh panitia pemilihan tingkat desa. Belum cukup istirahat sudah diminta melaksanakan agenda keliling TPS besama calon yang lainnya. Naik mobil polisi, duduk dibelakang, seperti tersangka tindak kriminal yang tertangkap. Bersama panitia tingkat desa unjuk muka dengan para pemberi suara di TPS-TPS yang ada.
Setelah selesai berkeliling, kira-kira jam dua belas siang, tepat satu jam sebelum waktu pemilihan ditutup, Pak Mitro bersama keluarga datang ke TPS di kampungnya untuk menggunakan hak suaranya. Dengan gagah berani Pak Mitro menggandeng istrinya memasuki tempat pemungutan suara. Anak-anak menyusul di belakangnya. Mereka semua datang ke TPS naik Honda Jass. Pak Mitro yang pegang kemudi sendiri. Tidak ada sopir yang biasanya membawa mereka kemana-mana karena sedang pulang kampung. Ada salah satu keluarganya yang sedang punya hajatan.
Pak Mitro dan keluarganya menyalami semua orang yang hadir di TPS. Dengan penuh kebanggaan dia menyalami para panitia PPS di kampunya sambil bertanya, “Bagaimana, semua aman terkendali? Semua warga yang punya hak pilih sudah menggunakan hak pilihnya?”. Pak Sugeng menjawab, “Semua aman terkendali. Sudah sekitar 90% warga menggunakan hak pilihnya. Yang belum mungkin sedang bekerja dan mungkin akan segera meluncur ke tempat ini, ini kan sudah jam istirahat Pak”. Pak Sugeng adalah Ketua PPS di kampung Pak Mitro.
Seluruh panitia PPS di tempat itu mulai sibuk lagi. Waktu menunjukkan pukul 12.45 WIB, masih tersisa 15 menit lagi proses penggunaan hak suara. Mereka mulai sibuk menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan untuk mengitung suara yang akan dilakukan mulai tepat pukul 13.00 WIB dan mengumumkan melalui pengeras suara bahwa waktu menggunakan hak suara masih ada 15 menit. Pak Mitro pulang bersama anggota keluarga yang lain. Menyiapkan diri menerima hasil perolehan suara. Ia sudah menyebarkan seluruh orang kepercayaan dan juga kader untuk memantau penghitungan suara di tiap-tiap TPS.
“Sumitro,” terdengar suara dari TPS. Penghitungan suara sudah dimulai. Sekarang memang sudah menunjukkan jam satu siang lebih sedikit. Sayup-sayup terdengar suara menyebut nama Pak Mitro berulang-ulang dari TPS. Sambil istirahat di rumah, Pak Mitro menunggu kabar dari orang yang telah ia sebar. “Bu, anak-anak sudah pada tidur? Mereka kelihatan masih capek. Kalau belum tidur, suruh saja mereka tidur dulu sambil menunggu kabar dari orang-orang kepercayaan Bapak.” Ujar Pak Mitro kepada Bu Mitro. “Ya Pak. Mereka masih di dapur, belum selesai makan. Biar diselesaikan dulu makannya, nanti biar Ibu yang nyuruh mereka tidur.” jawab Bu Mitro.
Pak Mitro dan Bu Mitro duduk-duduk di teras depan sambil menunggu kabar perolehan suara. “Bagaimana ini Pak? Kita sudah mengeluarkan banyak uang. Apa nanti Bapak pasti jadi?” tanya Bu Miro. “Kalau masalah uang, jangan dipikirkan. Nah, kalau masalah jadi atau tidak, kita harus optimis. Aku kan sudah pernah bilang, semua kupercayakan sama ereka yang sudah kukasih uang dan mereka juga sudah yakin kita pasti menang. Coba bayangkan, kalau nanti kita menang, semua uang kita pasti akan terganti semasa aku masih menjabat. Jadi jangan kuatir.” Pak Mitro berbicara serius. “Tapi kan bisa saja mereka bohong. Yang ibu khawatirkan, Bapak nanti kalah. Trus bagaimana kita mengembalikan modal yang sudah keluar?” Bu Mitro kembali bertanya. “Sudah lah, jangan pikikan hal itu lagi. Kita harus optimis, kita pasti menang.” ungkap Pak Mitro dengan penuh percaya diri.
Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB. Pak Mitro masih duduk-duduk di teras depan rumah. Satu per satu kader berdatangan dengan membawa hasil pantauan perolehan suara. Hampir di setiap TPS, Pak Mitro mendapatkan suara mayoritas. Hanya d beberapa TPS yang juga ada calon Lurah yang lain saja yang tidak mendapatkan suara banyak. Setelah hasil pantauan itu direkap, hasilnya memuaskan. Pak Mitro mendapatkan suara tebayak. Dari 5.678 total suara, ia mendapatkan 3.456 suara. Sudah lebih dari 50%. Ia kemudian menyuruh Bagong untuk mengecek perolehan suara yang telah direkap di Kelurahan. Ternyata benar, Pak Mitro mendapatkan suara terbanyak, 3.453 suara, hanya selisih 3 suara dari yang telah direkap oleh para kadernya. Mungkin tadi hanya salah hitung.
Sebelumnya, PPS tingkat Kelurahan sudah merekap semua data suara yang masuk dan memang Pak Mitro yang mendapatkan suara terbanyak. PPS Kelurahan sudah mengirimkan wakilnya kepada masing-masing calon. Mereka diperintahkan untuk memberitahukan kepada seluruh calon untuk menerima apa yang terjadi sebagai hasil pemungutan suara yang sudah dilakukan. Hanya saja saat itu mereka belum diberi tahu berapa suara yang mereka peroleh. Tepat pukul 18.00 WIB mereka baru diberitahu berapa perolehan suara yang diperoleh masing-masing calon.
“Tuh kan Bu, kita pasti menang. Aku kan sudah memilih orang-orang yang mampu membantu kita. Semua pasti beres. Kita tinggal kasih imbalan ke mereka saja.” kata Pak Mitro dengan penuh kepercayaan diri. Satu per satu tetangga datang ke rumah Pak Mitro untuk memberikan selamat. Tak luput para kader yang tadi sudah bekerja memantau perolehan suara. Mereka berkata “Kapan Pak kita adakan pesta lagi, syukuran gitu. Kan kita sudah berhasil memenangkan pemilihan. Dan juga, jangan lupa janji Bapak kepada kami.” Pak Mitro menjawab, “Kita adakan pesta syukuran besok sore, silahkan kasih tahu semua yang telah membantu saya, khususnya semua kader, agar besok datang ke sini lagi. Masalah janji saya kemarin, saya pasti tidak lupa. Makanya kita kumpul besok untuk pesta kecil-kecilan dan saya akan bagikan bonus untuk kalian semua.”
Hari semakin larut, Pak Mitro terlelap dalam kelelahannya. Malam itu, rumah Pak Mitro terlihat lengang. Semua kelelahan, hingga tak ada satupun kegiatan. Bahkan, Bagong pun ikut kelelahan dan istirahat di kamanya.
***
Dewa siang mulai nampak di ufuk timur. Seluruh warga sudah mulai beraktivitas. Pak Mitro dan keluarga pun sudah mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk pesta syukuran yang akan diadakan nanti malam. Semua sibuk, tak terkecuali Bagong. Bagong menjadi sangat sibuk karena disuruh kesana kemari untuk memesan berbagai hal yang diperlukan. Mulai dari makanan, minuman, hingga hiburan yang akan disiapkan. Semua dana sudah disiapkan. Dasar orang kaya, tak ada yang tak bisa buatnya.
Sore pada hari yang sama, pesta dimlai pukul 18.00 WIB. Semua kader dan orang kepercayaan datang. Bukan datang sendiri, mereka diminta untuk membawa serta istri dan anak mereka. Pesta yang pada awalnya diprediksikan akan sederhana menjadi sebuah pesta besar. Begitu banyak orang yang datang. Tapi semua sudah dipersiapkan, semua sudah ada. Makanan dan minuman sudah diatur oleh pihak catering yang dipesan. Hiburan, Pak Mitro sekali lagi memesan organ tunggal yang ternama di daerahnya. Sudah sejak awal terus bernyanyi. Bahkan ada juga yang nyawer penyanyinya.
Pesta yang sediakalanya dilaksanakan untuk syukuran karena perolehan suara Pak Mitro sudah ditetapkan menjadi yang terbanyak dan menjadi calon Lurah terpilih menjadi sangat ramai. Bahkan mungkin melebihi pesta yang terdahulu. Sudah seperti syukuran karena sudah jadi Lurah. Semua warga setempat juga diminta datang sehingga rumahnya menjadi seperti pasar malam yang tak berhenti-berhenti.
***
Dua bulan berlalu, Pak Mitro mempersiapkan diri untuk menjalani pelantikan Lurah. Ada rasa gugup, tapi ada juga rasa senang. Akhirnya dilantik juga jadi lurah. Semua yang dikeluarkan akan segera tergantikan, pikirnya. Tak hanya Pak Mitro yang sibuk, Bu Mitro dan anak-anaknya pun ikut bingung mempersiapkan segala sesuatunya. Bagong menjadi orang yang paling sibuk seperti biasa kalau Pak Mitro sedang punya hajat. Dia disuruh kesana kemari untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Sampai-sampai, dia juga disuruh menjadi sopir karena sopir Pak Mitro sejak pemilihan dulu belum kembali lagi. Mungkin sudah bosan karena hanya disuruh-suruh.
Pak Mitro semakin gugup ketika memasuki ruang sidang. Di tempat itu akan dilakukan serah terima jabatan dan sumpah jabatan bagi pejabat baru, Pak Mitro. “Sudah siap Pak Mitro? Kalau sudah, segera saja kita mulai serah terima ini.” kata pemimpin sidang. “Ya, saya sudah siap, lebih cepat lebih baik.” Jawab Pak Mitro. Segera saja setelah jawaban itu diungkapkan, acara dimulai. Pejabat Lurah lama dan Pak Mitro duduk berdampingan. Menunggu diminta berjabat tangan sebagai simbol penyerahan jabatan yang akhirnya dlakukan juga.
Setelah penyerahan jabatan, dengandisaksikan oleh peserta sidag dan ada juga beberapa wartawan yang datang meliput, Pak Mitro disumpah. Sumpah jabatan Lurah. Dan meriahlah suasana dengan riuh rendah tepuk tangan para peserta sidang. Semua bersalaman dengan Pak Mitro dan mengucapkan selamat. Mulai hari itu juga Pak Mitro resmi menjadi Lurah di desanya dan mulai hari itu juga Pak Mitro bekerja. Jadi, setelah tadi disumpah, Pak Mitro langsung melaksanakan tugasnya sebagai Lurah.
***
Satu tahun pertama masa jabatan Pak Mitro semuanya terlihat lancar. Semua kepentingan warga dilayani dengan baik. Tak ada satu pun yang terlewakan. Aka tetapi, ada sesuatu yang menjadi ganjalan para warga. Secara diam-diam, warga menghimpun kekutan. Mereka bermusyawarah secara diam-diam utuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Mereka melihat ada kejanggalan dalam laporan pertanggungjawaban keuangan tahunan. Banyak dana yang hilang entah kemana. Usut punya usut, ternyata Pak Mitro menggunakannya untuk mengganti uang yang telah ia gunakan dalam proses pemilihan dulu.
Setelah mendapatkan bukti yang kuat. Semua warga melakukan demo meminta Pak Mitro turun dari jabatan Lurah. Mereka juga mendapati bahwa janji-janji yang digembor-gemborkannya dulu tidak dipenuhi. Janji-janjinya hanya digunakan untuk membujuk warga supaya memilihnya. Kemarahan warga menjadi semakin besar. Bahkan hampir saja rumah Pak Mitro menjadi sasaran amuk massa. “Mitro nggedebus, Mitro pembohong, turun kau Mitro.” teriak para warga. Keadaan itu semakin memburuk, banyak wartawan yang datang utuk meliput. Berita itu menjadi tersebar ke mana-mana.
Atas bantuan pihak kepolisian, rumah Pak Mitro dijaga ketat agar amuk massa tidak melakukan perusakan. Seluruh anggota keluarga Pak Mitro diungsikan ke luar kota. Warga tetap mendesak. Mereka melaporkan apa yang mereka temukan ke pengadilan. Masalah itu menjadi santapan publik dan sudah dibawa ke meja hijau.
Sidang terus berlanjut. Mulai dari tahap penyidikan oleh pihak kepolisian sampai pemutusan hukuman. Pak Mitro terbukti melakukan korupsi. Pada saat itu juga Pak Mitro diberhentikan dengan tidak hormat sebagai Lurah. Selain itu, Pak Mitro juga ditahan di sel. Sampai-sampai, karena malu, semua harta miliknya yang tidak disita dijual oleh istrinya untuk tinggal di luar kota. “Dasar Mitro nggedebus, pembohong. Hanya karena kaya dia bisa jadi Lurah. Tapi, setelah jadi Lurah, kelakuannya kok kayak gitu. Terima sendiri akibatnya. Pemimpin kok hanya memikirkan dirinya sendiri, mana rasa kebangsaanmu? Tega nian wargamu kau manfaatkan.” ujar salah seorang warga yang merasa kecewa dengan Pak Mitro.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer