(Lingkaran)
Terik sambangi terang
melangkah ke peraduan
membawa kemilau cahya
silaukan netra
Tubuhmu menggeliat
terbawa arus keramaian
menjinjing duka
memikul tawa
Semoga tak ada tanya
ke mana perginya
Rabu, 08 Juni 2011
PUISI: LINGKARAN
(Lingkaran)
Terik sambangi terang
melangkah ke peraduan
membawa kemilau cahya
silaukan netra
Tubuhmu menggeliat
terbawa arus keramaian
menjinjing duka
memikul tawa
Semoga tak ada tanya
ke mana perginya
Terik sambangi terang
melangkah ke peraduan
membawa kemilau cahya
silaukan netra
Tubuhmu menggeliat
terbawa arus keramaian
menjinjing duka
memikul tawa
Semoga tak ada tanya
ke mana perginya
PUISI: PAK TUA
Pak Tua (2)
Nafasmu tersengal
menahan rintih
akan waktu yang semakin menindih
Langkahmu tak lagi nyaring
kala gesa meradang
"Haruskah kelambu kubelah?"
Memandangmu kian gelisah
terobos senja
kibaskan kabut
"Sudahlah.
Biarkan kami lanjutkan mimpi dan langkahmu."
Sengkarut racun kian mengendap
kikis ketangguhan
sisakan keangkuhan
tenggelamkan kejayaan
Ironi beranjak
menyulap bahkan menginjak
petuah bijak
"Biarkan kami lanjutkan mimpi dan langkahmu."
Nafasmu tersengal
menahan rintih
akan waktu yang semakin menindih
Langkahmu tak lagi nyaring
kala gesa meradang
"Haruskah kelambu kubelah?"
Memandangmu kian gelisah
terobos senja
kibaskan kabut
"Sudahlah.
Biarkan kami lanjutkan mimpi dan langkahmu."
Sengkarut racun kian mengendap
kikis ketangguhan
sisakan keangkuhan
tenggelamkan kejayaan
Ironi beranjak
menyulap bahkan menginjak
petuah bijak
"Biarkan kami lanjutkan mimpi dan langkahmu."
PUISI: USANG
USANG
Nafasmu mulai tersengal
menahan rintih
akan waktu yang semakin menindih
Langkahmu tak lagi nyaring
kala gesa meradang
"Haruskah kelambu kubelah?"
Memandangmu kian gelisah
terobos senja
kibaskan kabut
"Sudahlah,
waktumu kian tipis.
Biarkan kami lanjutkan langkahmu."
Sengkarut racun kian mengendap
kikis ketangguhan
sisakan keangkuhan
tenggelamkan kejayaan
Ironi beranjak
menyulap bahkan menginjak
petuah bijak
Nafasmu mulai tersengal
menahan rintih
akan waktu yang semakin menindih
Langkahmu tak lagi nyaring
kala gesa meradang
"Haruskah kelambu kubelah?"
Memandangmu kian gelisah
terobos senja
kibaskan kabut
"Sudahlah,
waktumu kian tipis.
Biarkan kami lanjutkan langkahmu."
Sengkarut racun kian mengendap
kikis ketangguhan
sisakan keangkuhan
tenggelamkan kejayaan
Ironi beranjak
menyulap bahkan menginjak
petuah bijak
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri Populer
-
LAMPU Seorang pria duduk di teras sambil memandang lampu yang menyala mencermati tetesan hujan yang lewa...
-
Novel PERANG Karya Putu Wijaya: Sebuah Renungan A. Pendahuluan Putu Wijaya (bernama asli I Gusti Ngurah Putu Wijaya) adalah seorang sastr...
-
Perang mimpi tak hanya jadi mimpi kini mereka menyerangku mengerat,mengikis, bahkan menghancurkan ota...
-
SARJANA Mereka bilang hidup perlu tujuan Mereka bilang derajat perlu dinaikkan Sarjana Impian dalam...
-
Ibu Kota Masihkah kau bernyanyi diantara cakar ayam pencengkeram perut kehidupan? Masihkah kau tersipu pada cermin pembelah muka? Sedu ...
-
Pak Tua (2) Nafasmu tersengal menahan rintih akan waktu yang semakin menindih Langkahmu tak lagi nyaring kala gesa meradang "H...
-
LELAH BERDIRI Gurat senja kali ini terhalang pekatnya mendung yang menggelora tak tampak seberkas cah...
-
Patung mendadak aku tak bisa bergerak terperangkap dalam ketakutan merintih pada sebuah tanya tak a...
-
KABUT Mereka datang menyerbu kala pagi merindukan hangatnya mentari menjaganya tetap dalam kesejukan...
-
Ruang Kosong tak sadar aku akan hadirmu dalam duniaku membawa kisah tak terkira mengembara dalam ruang h...