PENGARUH
BUDAYA TERHADAP BAHASA
DALAM FILM TANAH AIR BETA:
Kesepahaman
dalam Pluralisme (Kajian Sosiolinguistik)
Oleh: Antonius
Arlin Nurseta
Pendahuluan
Film
adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan salah satu media komunikasi
massa audiovisual yang dibuat berdasarkan asas sinematografi yang direkam pada
pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasilpenemuan
teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses
kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang
dapat ditunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistemproyeksi mekanik,
elektronik, dan sistem lainnya (id.scribd.com/mobile/doc/32637180?width=320).
Film dapat berfungsi sebagai sarana pemberdayaan masyarakat luas; pengekspresian
dan pengembangan seni, budaya, pendidikan, dan hiburan; sebagai sumber
penerangan dan informasi; serta sebagai bagian dari komoditas ekonomi.
Film
di Indinesia dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan, baik dari segi
kuantitas maupun kualitas. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
proses dan hasil pembuatan film di Indonesia juga semakin baik. Dari selian
banyak film yang dibuat oleh sineas Indonesia, tidak sedikit film yang
mengangkat tema nasionalisme, salah satunya adalah Tanah Air Beta yang
diproduksi oleh Alenia Pictures yang mulai ditayangkan pada bulan Juni 2010.
Film Tanah Air Beta bercerita tentang sebuah
keluarga yang terpisah karena adanya pemisahan Timor Timur dari Indonesia.
Ketika Timor-Timur berpisah dari Indonesia, perpisahan harus terjadi, terhadap
dua kakak beradik yang saling menyayangi, mereka terpaksa harus hidup dalam
kondisi dan lokasi yang berbeda, dikarenakan kepentingan yang sangat tidak
mereka mengerti, menjadikan Merry harus tinggal berdua saja dengan ibunya,
Tatiana di sebuah kamp pengungsian di Kupang NTT. Sementara kakak laki-lakinya
Mauro tinggal bersama pamannya di Timor Leste.
Tatiana dan
anaknya, Merry, hidup di sebuah kamp pengungsian bersama ratusan ribu orang
pengungsi lainnya. Di antaranya Abubakar seorang keturunan Arab yang sudah
turun temurun hidup dan tinggal di TimorTimur. Tatiana mengajar di sekolah
darurat di kamp tersebut. Merry juga bersekolah di tempat itu bersama Carlo
seorang anak laki-laki yang sangat jahil dan suka menggangu Merry, itu
dikarenakan Carlo ingin sekali mempunyai seorang adik dan merasakan kembali
cinta kasih keluarga.
Kehidupan yang
sangat berat di sebuah kamp pengugsian dan di tengah ketidakpastian akan
keberadaan anak laki-lakinya, tidak membuat Tatiana menjadi lemah. Kerinduan
Merry akan kakaknya dan penderitaan yang begitu mendalam dari sang ibu
menjadikan Merry, anak perempuan yang cerdas dan nekad mencari kakaknya di
Motain, di perbatasan. Ia pergi meninggalkan rumah dan kemudian disusul oleh
Carlo yang disuruh Ali untuk mencarinya. Mereka berdua melakukan perjalanan
yang berat sampai di perbatasan. tampaputus asa merekamencari Mauro hingga
akhirnya mereka dipertemukan melalui dendangan lagu “Kasih Ibu”. Akhirnya
mereka sekeluarga dapat berkumpul kembali.
Selain cerita yang
mengharukan tersebut, di dalam film juga terdapat pemakaian bahasa yang menarik
untuk dicermati. pada bagian pembahasan, akan dijelaskan mengenai hal-hal yang
menarik berkaitan dengan pemakaian bahasa dalam film tersebut, diantaranya:
tentang latar belakang/keragaman penutur, adanya campur kode dalam komunikasi
verbal, dan kebiasaan menarik dalam berkomunikasi.
Pembahasan
Bahasa
merupakan salah satu dari tujuh unsur semestaan kebudayaan (cultural universals) yang juga merupakan
satu-satunya wahana kebudayaan itu sendiri; sehingga layak mendapatkan
perhatian yang memadai dalam penelitian demi mempermudah pemahaman terhadap
berbagai aspek semestaan kebudayaan yang diwahanainya itu (Sudaryanto, 1993:
xii). Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang dipergunakan
oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan
mengidentifikasi diri (Harimurti Kridalaksana, 2009: 24). Bahasa memiliki peran
penting bagi kehidupan manusia. Dalam berbagai aktivitas manusia, bahasa sangat
diperlukan agar tercapai kesepahaman antar penutur bahasa. Menurut I Dewa Putu
Wijana dan Muhammas Rohmadi, berbicara bahasa sebagai alat komunikasi akan
terkait erat dengan sosiolinguistik, yaitu cabang ilmu bahasa yang mempelajari
pemakaian bahasa secara eksternal, yakni bagaimana satuan kebahasaan itu
digunakan dalam komunikasi di dalam masyarakat (2012: v).
Sosiolinguistik
adalah cabang linguistik yang mempelajari hubungan dan saling pengaruh antara
perilaku bahasa dan perilaku sosial (harimurti Kridalaksana, 2009: 225).
Sosiolinguistik sebagai cabang linguistik memandang atau menempatkan kedudukan
bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa dalam masyarakat karena dalam
kehidupan masyarakat manusia tidak lagi sebagai individu, akan tetapi sebagai
masyarakat sosial (I Dewa Putu Wijana dan Muhammas Rohmadi, 2012: 7). Menurut
Kunjana Rahardi (2001: 13), sosiologi mempertimbangkan keterkaitan antara dua
hal, yakni dengan linguistik untuk segi kebahasaan dengan sosiologi untuk segi
kemasyarakatannya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia
dalam bertutur akan selalu dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di sekitarnya.
Film Tanah Air Beta adalah salah satu film
Indonesia yang menceritakan setting kedaerahan yang sangat kental, yaitu di
daerah Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan Timor Timur. Dalam
berkomunikasi, tokoh dalam film tersebut memanfaatkan bahasa Indonesia dengan
dialek setempat (dialek masyarakat Indonesia bagian timur). Dalam film
tersebut, terdapat keunikan pemakaian bahasa dalam berkonunikasi, diantaranya
sebagai berikut.
1. Keragaman
Latar Belakang Penutur
Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari
beribu-ribu pulau. Keadaan geografis Indonesia yang berupa kepulauan ini
berakibat pada adanya berbagai macam suku bangsa dan bahasa daerah. Keragaman
masyarakat Indonesia menjadi salah satu ciri bangsa Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat Indonesia banyak
yang melakukan migrasi ke daerah atau bahkan pulau lain. Hal ini menjadikan
satu daerah memiliki anggota masyarakat yang heterogen. Selain adanya migrasi,
heterogenitas masyarakat diwarnai pula oleh warisan masyarakat asing yang
datang atau menjajah Indonesia.
Nusa Tenggara Timur, setting film Tanah Air Beta, merupakan salah satu contoh daerah di Indonesia
yang masyarakatnya heterogen. Selain warga asli daerah tersebut, terdapat pula
masyarakat keturunan Cina (Koh Ipin dan Cik Iren) dan keturunan Arab (Abu
Bakar). Meskipun terdapat perbedaan, mereka tetap melakukan komunikasi
menggunakan bahasa Indonesia (dialek timur) yang mereka pahami. Kekhasan logat
Cina dari keluarga Koh Ipin dan Cik Irin tidak lagi tampak dalam tindak
tuturnya, telah mengikuti kebiasaan dialek setempat, seperti contoh berikut.
… Ah jangan kuatir. Beta simpankan buat lo pung kakak
Mauro to. … . (Kalimat yang diucapkan oleh Koh Ipin yang sudah tidak
tampak lagi logat atau dialek bahasa Cinanya.)
2. Campur Kode
Menurut
Ohoiwutun (1997: 69), campur kode adalah penggunaan lebih dari satu bahasa atau
kode dalam satu wacana menurut pola-pola yang masih belum jelas. Selain itu,
campur kode juga dapat didefinisikan sebagai penggunaan dua bahasa atau lebih,
atau dua varian dari sebuah bahasa dalam satu masyarakat tutur yang terdapat
satu kode utama atau kode dasar yang digunakan dan memiliki fungsi dan keotonomiannya,
sedangkan kode-kode lain yang terlibat dalam peristiwa tutur itu hanyalah
berupa serpihan-serpihan (pieces)
yang tidak mempunyai fungsi dan keotonomian (Abdul Chaer dan Leoni Agustina,
2004:114). Campur kode berbeda dengan alih kode. Alih kode pada hakikatnya
merupakan pergantian pemakaian bahasa atau dialek (Ohoiwutun, 1997: 71). Asumsi
dasar dari campur kode adalah pemakaian bahasa, baik bahasa asli maupun bahasa
asing, beserta variasinya dalam sebuah masyarakat tutur yang di dalamnya memiliki
sebuah kode bahasa yang utama, misalnya bahasa Indonesia.
Bahasa
yang digunakan dalam tindak tutur dalam film Tanah Air Beta adalah bahasa Indonesia (dialek Indonesia timur).
Dalam peristiwa pertuturan terdapat beberapa variasi bahasa yang dimanfaatkan.
Variasi bahasa tersebut salah satunya terlihat dalam penggunaan campur kode
dalam bertutur. Bentuk campur kode dalam film Tanah Air Beta berupa campur kode ke luar, campur kode yang terjadi
karena adanya penyisipan unsur-unsur yang berasal dari bahasa asing. Contoh
adanya campur kode dalam film tersebut adalah pemakaian beberapa kata
dalambahasa asing di luar bahasa Indonesia, misalnya: tante (1), zonder (2), obrigado (3), dan no smoking (4). Kata tante
dan zonder berasal dari bahasa
Belanda yang berarti bibi (Helen
Sugesti, 2003: 328) dan tanpa (Helen
Sugesti, 2003: 371). Obrigado adalah
kata dalam bahasa Portugis (konon, yang pernah menjajah daerah Nusa tenggara
Timur dan Timor Timur) yang artinya terima
kasih. No smoking adalah frasa
dalam bahasa Inggris yang dalam bahasa Indonesia berarti dilarang merokok.
(1) ... Terima kasih tante. ... .
(Kalimat yang diucapkan Merry kepada penjual makanan di terminal.)
(2) ... Aduh Merry, ada kenalan jus zonder
ada guna. ... . (Kalimat yang diucapkan Cik Irin kepada Merry ketika Merry
ingin menelepon kakaknya namun tidak memiliki nomor teleponnya.)
(3) ... Obregado abu. ... .
(Kalimat yang diucapkan Carlo kepada seorang bapak yang memberitahukan arah
perginya Merry.)
(4) ... He Primo, dia pung tulisan apa itu?
No
smoking. ... . (Dialog yang terjadi antara Abu
dan penjual bahan bakar minyak.)
Bahasa daerah juga menjadi bagian campur
kode ke luar karena bahasa yang secara dominan digunakan dalam film ini adalah
bahasa Indonesia, meskipun dengan dialek Indonesia timur. Salah satu contohnya
adalah pemakaian kata beta yang
muncul dalam lagu. Kata beta
merupakan pronomina yang berarti saya.
Kata ini digunakan oleh orang-orang besar pada zaman dahulu dalamcerita Melayu
klasik, penyair dalam karya sastra masa kemudian, atau masyarakat di Maluku
(Tim redaksi, 2002: 144).
3. Keunikan dalam
Berbahasa
a. Pengucapan
Kata secara Tidak Lengkap
Dalam komunikasi, terdapat pengucapan kata yang tidak lengkap. Hal tersebut tamapk dalam contoh berikut.
1) … Baru satu
minggu menikah, kita su dipisah
karena referendum. … . (Kalimat yang diucapkan olah Abu Bakar ketika suaranya
direkamuntuk diberikan kepada istrinya)
2) … Saya mau
tulis dia pung alamat. … . (Kalimat
yang diucapkan Tatiana ketika meminjam pulpen dari relawan untuk menuliskan
alamat dari Mauro, anaknya, yang tinggal bersama Paulo.)
3) … Maru tidak
mau bertemu dengan saya lae. …
(kalimat yang diucapkan Tatiana kepada Abu ketika berada dib alai pengobatan.)
Bunyi bahasa su dalam contoh
1) merupakan pengganti kata sudah,
bunyi bahasa pung dalam contoh
2)menjadi pengganti kata punya, dan
bunyi bahasa lae pada contoh 3)
menjadi pengganti kata lagi. Pengucapan kata yang tidak lengkap tersebut
diasumsikan sebagai bagian dari kebiasaan atau dialek Indonesia bagian timur,
khususnya daerah Nusa Tenggara Timur.
b. Kebiasaan Ramah
Tamah bangsa Indonesia sebagai Bangsa yang Memiliki Adat Ketimuran
Bangsa Indonesia sebagai bangsa
dengan adat ketimuran, dikatakan memiliki adat kebiasaan yang berbeda dengan
masyarakat di Negara lain, terutama Eropa. Bangsa Indonesia sering disebut
memiliki tingkat kesopanan dan keramahtamahan yang tinggi dalam berkomunikasi.
Salah satu contoh yang tampak dalam film Tanah Air Beta adalah selalu diucapkan
ungkapan terima kasih dalam berbagai variasi bahasa; baik bahasa daerah, bahasa
Indonesia; maupun bahasa asing.
“Obrigado.” (kata yang
diucapkan oleh Carlo saat mendapatkan informasi dari penduduk tentang arah
perginya Merry)
Simpulan
Dari berbagai
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam film Tanah Air Beta terdapat kesepahaman antara penutur bahasa dalam
wujud dialek (Nusa tenggara Timur). Meskipun anggota masyarakat berasal dari
latar belakang yang berbeda, misalnya dari sisi suku bangsa, mereka memiliki
kesepakatan dalam berkomunikasi. Dialek (Nusa Tenggara Timur) memiliki peranan
yang sangat kuat dalam proses berkomunikasi. Selain itu, karena pluralisme dan
juga latar belakang sejarah yang panjang, bahasa yang digunakan dalam
berkomunikasi mengalami peristiwa campur kode, yaitu pemanfaatan unsur
kebahasaan lain selain unsur kebahasaan dalam bahasa Indonesia di dalam
pertuturan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, budaya sangat berpengaruh
dalam penggunaan bahasa pada film Tanah
Air Beta.
Daftar Pustaka
Abdul Chaer dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik,
Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Harimurti
Kridalaksana. 2009. Kamus Linguistik.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Helen Sugesti.
2003. Kamus Saku Belanda-Indonesia dan
Indonesia-Belanda. Yogyakarta: Absolut.
I Dewa Putu
Wijana dan Muhamad Rohmadi. 2012. Sosiolinguistik:
Kajian Teori dan Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
id.scribd.com/mobile/doc/32637180?width=320
diakses pada 3 April 2013.
Kunjana
Rahardi. 2001. Sosiolinguistik: Kode dan
Alih Kode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ohoiwutun, Paul. 1997. Sosiolinguistik. Jakarta: Kesaint
Blanc.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Pengantar
Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana
University Press.
Antonius Arlin Nurseta, S.S. lahir di Sleman, DIY,
tanggal 17 Juli 1985 dari pasangan Ignatius Sugiyatno dan Remanda Utami.
Pendidikan SD (lulus tahun 1997), SMP (lulus tahun 2000), dan SMA (lulus tahun
2003) diselesaikan di Sleman. Setelah lulus SMA, tahun 2003 melanjutkan studi
di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan lulus pada tahun 2007.
Setelah selesai kuliah S1, melanjutkan studi di Program Akta IV di Universitas
Sarjanawiyata Tamansiswa dan selesai pada tahun 2008. Pada tahun 2014, telah
menyelesaikan studi di Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.Sejak tahun 2009 menjadi pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di
SMA N 1 Karangmojo.
Biodata:
Nama : Antonius Arlin
Nurseta, S.S., M.Pd.
Tempat,
tanggal lahir : Sleman, 17 Juli 1985
Alamat : Banteran 04/26,
Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yk. 55581
Email :
antonius_arlin@yahoo.com
No.
hp : 081802757148
