Ibu Kota
Masihkah kau bernyanyi diantara cakar ayam pencengkeram perut kehidupan?
Masihkah kau tersipu pada cermin pembelah muka?
Sedu tertangkap lewat pelupuk mata
mengalir
mengiris
menjelma dalam keluh pribumi
ketika mulut tiada berhenti bercerita
Merintih
(tapi juga) menghujat
sumpah serapah tak kuasa terlepas
lewat gua berpita
lewat senandung derita
Dan kini, terbelalak pada mimpi maya yang tiada nyata
merajuk
merayu
dalam bingkai gemerlap cahya
gincu merona
Lirih cerita terhembus lewat rongga keterdesakan
mendesah tak berdaya
menggelepar di antara tarian kereta baja
Jumat, 01 Februari 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Entri Populer
-
LAMPU Seorang pria duduk di teras sambil memandang lampu yang menyala mencermati tetesan hujan yang lewa...
-
Novel PERANG Karya Putu Wijaya: Sebuah Renungan A. Pendahuluan Putu Wijaya (bernama asli I Gusti Ngurah Putu Wijaya) adalah seorang sastr...
-
Perang mimpi tak hanya jadi mimpi kini mereka menyerangku mengerat,mengikis, bahkan menghancurkan ota...
-
SARJANA Mereka bilang hidup perlu tujuan Mereka bilang derajat perlu dinaikkan Sarjana Impian dalam...
-
Ibu Kota Masihkah kau bernyanyi diantara cakar ayam pencengkeram perut kehidupan? Masihkah kau tersipu pada cermin pembelah muka? Sedu ...
-
Pak Tua (2) Nafasmu tersengal menahan rintih akan waktu yang semakin menindih Langkahmu tak lagi nyaring kala gesa meradang "H...
-
LELAH BERDIRI Gurat senja kali ini terhalang pekatnya mendung yang menggelora tak tampak seberkas cah...
-
Patung mendadak aku tak bisa bergerak terperangkap dalam ketakutan merintih pada sebuah tanya tak a...
-
KABUT Mereka datang menyerbu kala pagi merindukan hangatnya mentari menjaganya tetap dalam kesejukan...
-
Ruang Kosong tak sadar aku akan hadirmu dalam duniaku membawa kisah tak terkira mengembara dalam ruang h...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar