Minggu, 27 Februari 2011

PUISI

Kelabu

haruskah aku terpikat pada
buaian kelam pembuat mimpi
palsu
mendekam di antara himpitan
kelam
menyibak kegalauan
bersama kepingan
kapur mimpi

haruskah aku menangis
kala pedih mengiris
kala malam makin menipis
membungkus senyum yang teramat manis

waktu
akankah menjadi teman
ataukah semakin menjadi beban

Selasa, 15 Februari 2011

PUISI

SILUET

teriakan nakalmu mengingatkanku
pada kecil yang pernah menjadi waktuku
sedu tangismu mengingatkanku
pada sendu masa lalu
senyum simpulmu mengingatkanku
pada binar ceria pagiku
tawa lepasmu mengingatkanku
pada kelucuan ulahku

walau ku tahu
dalam binar terang matamu
tersimpan galau
bersama mimpi yang kemilau

'Rabi,
masihkah embun sedia menemani hari depanku
masihkah nyanyian burung sedia menemani pagiku
masihkah angin sedia membelai jiwaku'

mimpimu terusik
putaran waktu yang tak mau menunggu

Kamis, 10 Februari 2011

PUISI

dosa masa lalu

parasmu tamparkan gelisah pada mataku
dengan tangan besi bergerigi
mengoyak lembaran makna yang tlah tertanam
mengubur dalam lubang pergulatan
bersama kerak yang mulai tergambar dalam bibirmu
menggeliat tawarkan sembilu
akan waktu lalu

dan kini
goresan itu masih membekas
menjadi cermin bagi diri
dalam kembang kempis persenggamaan dosa dan budi

mungkinkah
masa kemudian menjadi kawan
kegelisahan yang kian tertanam
akan nila di masa lalu
menjadikannya kitab cermin

Selasa, 08 Februari 2011

PUISI

Tarian Daun Pisang

angin membelaiku dengan mesra
mengajakku tuk berdansa
dalam alam yang kian merana
menghias mata yang buta
akan indahnya dunia
'aku ingin sepertimu
slalu tersenyum pada dunia
lambaikan salam bahagia
yang tlah menjadi tanda'

pagi kan slalu menyambutmu
bersama tetes kemurnian jiwa
bersama dingin yang menggelora

hingga akhirnya
kau pun direnggut
dan berubah peran

PUISI

Senandung Tanah Liat

tawa
sedih
yang tergambar
membekas oleh pijakan kaki
bersama senyum yang slalu kau goreskan
dalam lamunan pagi sunyi
'di mana pangkuanmu ibu'
menggeliat dalam tanah abu
membawa sesal yang kian tebal memburu
mengolah rupa menjadi berhala
atau bingkai ramah dunia

Rabu, 02 Februari 2011

PUISI

Mendung di Kala Pagi Kembali

matamu tak kan menipuku
terbelalak dalam kebimbangan
diam dalam kegalauan
membawa pesan tanpa makna
dalam waktu yang tak kau sadari

mimpi

jika hanya menengadah pada sunyi
yang tak lagi memberi senyum
tuk bergulat membingkai langit
langit pagi yang tersipu
pada mendung yang slalu menemani
pada bingung yang slalu menghantui

'aku ingin smua kan pergi
membawa bebal diri yang tak berarti
ketika surya mulai nampak lagi
membawa senyum yang kan slalu berseri'

dan seekor merpati putih terbang tinggi
membunyikan peluit pagi sunyi
membawa titah padapelangi
tuk menghias senyum mentari

Entri Populer