Kelabu
haruskah aku terpikat pada
buaian kelam pembuat mimpi
palsu
mendekam di antara himpitan
kelam
menyibak kegalauan
bersama kepingan
kapur mimpi
haruskah aku menangis
kala pedih mengiris
kala malam makin menipis
membungkus senyum yang teramat manis
waktu
akankah menjadi teman
ataukah semakin menjadi beban
Minggu, 27 Februari 2011
Selasa, 15 Februari 2011
PUISI
SILUET
teriakan nakalmu mengingatkanku
pada kecil yang pernah menjadi waktuku
sedu tangismu mengingatkanku
pada sendu masa lalu
senyum simpulmu mengingatkanku
pada binar ceria pagiku
tawa lepasmu mengingatkanku
pada kelucuan ulahku
walau ku tahu
dalam binar terang matamu
tersimpan galau
bersama mimpi yang kemilau
'Rabi,
masihkah embun sedia menemani hari depanku
masihkah nyanyian burung sedia menemani pagiku
masihkah angin sedia membelai jiwaku'
mimpimu terusik
putaran waktu yang tak mau menunggu
teriakan nakalmu mengingatkanku
pada kecil yang pernah menjadi waktuku
sedu tangismu mengingatkanku
pada sendu masa lalu
senyum simpulmu mengingatkanku
pada binar ceria pagiku
tawa lepasmu mengingatkanku
pada kelucuan ulahku
walau ku tahu
dalam binar terang matamu
tersimpan galau
bersama mimpi yang kemilau
'Rabi,
masihkah embun sedia menemani hari depanku
masihkah nyanyian burung sedia menemani pagiku
masihkah angin sedia membelai jiwaku'
mimpimu terusik
putaran waktu yang tak mau menunggu
Kamis, 10 Februari 2011
PUISI
dosa masa lalu
parasmu tamparkan gelisah pada mataku
dengan tangan besi bergerigi
mengoyak lembaran makna yang tlah tertanam
mengubur dalam lubang pergulatan
bersama kerak yang mulai tergambar dalam bibirmu
menggeliat tawarkan sembilu
akan waktu lalu
dan kini
goresan itu masih membekas
menjadi cermin bagi diri
dalam kembang kempis persenggamaan dosa dan budi
mungkinkah
masa kemudian menjadi kawan
kegelisahan yang kian tertanam
akan nila di masa lalu
menjadikannya kitab cermin
parasmu tamparkan gelisah pada mataku
dengan tangan besi bergerigi
mengoyak lembaran makna yang tlah tertanam
mengubur dalam lubang pergulatan
bersama kerak yang mulai tergambar dalam bibirmu
menggeliat tawarkan sembilu
akan waktu lalu
dan kini
goresan itu masih membekas
menjadi cermin bagi diri
dalam kembang kempis persenggamaan dosa dan budi
mungkinkah
masa kemudian menjadi kawan
kegelisahan yang kian tertanam
akan nila di masa lalu
menjadikannya kitab cermin
Selasa, 08 Februari 2011
PUISI
Tarian Daun Pisang
angin membelaiku dengan mesra
mengajakku tuk berdansa
dalam alam yang kian merana
menghias mata yang buta
akan indahnya dunia
'aku ingin sepertimu
slalu tersenyum pada dunia
lambaikan salam bahagia
yang tlah menjadi tanda'
pagi kan slalu menyambutmu
bersama tetes kemurnian jiwa
bersama dingin yang menggelora
hingga akhirnya
kau pun direnggut
dan berubah peran
angin membelaiku dengan mesra
mengajakku tuk berdansa
dalam alam yang kian merana
menghias mata yang buta
akan indahnya dunia
'aku ingin sepertimu
slalu tersenyum pada dunia
lambaikan salam bahagia
yang tlah menjadi tanda'
pagi kan slalu menyambutmu
bersama tetes kemurnian jiwa
bersama dingin yang menggelora
hingga akhirnya
kau pun direnggut
dan berubah peran
PUISI
Senandung Tanah Liat
tawa
sedih
yang tergambar
membekas oleh pijakan kaki
bersama senyum yang slalu kau goreskan
dalam lamunan pagi sunyi
'di mana pangkuanmu ibu'
menggeliat dalam tanah abu
membawa sesal yang kian tebal memburu
mengolah rupa menjadi berhala
atau bingkai ramah dunia
tawa
sedih
yang tergambar
membekas oleh pijakan kaki
bersama senyum yang slalu kau goreskan
dalam lamunan pagi sunyi
'di mana pangkuanmu ibu'
menggeliat dalam tanah abu
membawa sesal yang kian tebal memburu
mengolah rupa menjadi berhala
atau bingkai ramah dunia
Rabu, 02 Februari 2011
PUISI
Mendung di Kala Pagi Kembali
matamu tak kan menipuku
terbelalak dalam kebimbangan
diam dalam kegalauan
membawa pesan tanpa makna
dalam waktu yang tak kau sadari
mimpi
jika hanya menengadah pada sunyi
yang tak lagi memberi senyum
tuk bergulat membingkai langit
langit pagi yang tersipu
pada mendung yang slalu menemani
pada bingung yang slalu menghantui
'aku ingin smua kan pergi
membawa bebal diri yang tak berarti
ketika surya mulai nampak lagi
membawa senyum yang kan slalu berseri'
dan seekor merpati putih terbang tinggi
membunyikan peluit pagi sunyi
membawa titah padapelangi
tuk menghias senyum mentari
matamu tak kan menipuku
terbelalak dalam kebimbangan
diam dalam kegalauan
membawa pesan tanpa makna
dalam waktu yang tak kau sadari
mimpi
jika hanya menengadah pada sunyi
yang tak lagi memberi senyum
tuk bergulat membingkai langit
langit pagi yang tersipu
pada mendung yang slalu menemani
pada bingung yang slalu menghantui
'aku ingin smua kan pergi
membawa bebal diri yang tak berarti
ketika surya mulai nampak lagi
membawa senyum yang kan slalu berseri'
dan seekor merpati putih terbang tinggi
membunyikan peluit pagi sunyi
membawa titah padapelangi
tuk menghias senyum mentari
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri Populer
-
LAMPU Seorang pria duduk di teras sambil memandang lampu yang menyala mencermati tetesan hujan yang lewa...
-
Novel PERANG Karya Putu Wijaya: Sebuah Renungan A. Pendahuluan Putu Wijaya (bernama asli I Gusti Ngurah Putu Wijaya) adalah seorang sastr...
-
Perang mimpi tak hanya jadi mimpi kini mereka menyerangku mengerat,mengikis, bahkan menghancurkan ota...
-
SARJANA Mereka bilang hidup perlu tujuan Mereka bilang derajat perlu dinaikkan Sarjana Impian dalam...
-
Ibu Kota Masihkah kau bernyanyi diantara cakar ayam pencengkeram perut kehidupan? Masihkah kau tersipu pada cermin pembelah muka? Sedu ...
-
Pak Tua (2) Nafasmu tersengal menahan rintih akan waktu yang semakin menindih Langkahmu tak lagi nyaring kala gesa meradang "H...
-
LELAH BERDIRI Gurat senja kali ini terhalang pekatnya mendung yang menggelora tak tampak seberkas cah...
-
Patung mendadak aku tak bisa bergerak terperangkap dalam ketakutan merintih pada sebuah tanya tak a...
-
KABUT Mereka datang menyerbu kala pagi merindukan hangatnya mentari menjaganya tetap dalam kesejukan...
-
Ruang Kosong tak sadar aku akan hadirmu dalam duniaku membawa kisah tak terkira mengembara dalam ruang h...