Purwakaning Mongso Rendheng
Opo iki kang diarani purwakaning mongso rendheng
naliko udan kang wus diantu-antu banjur nibo
anelesi sakkabehing wit-witan
anyebar gondo siti kang wus suwe ngilang
anggowo berkah marang poro tani
Opo iki kang diarani purwakaning mongso rendheng
naliko mendung angemuli langit
banjur angin ugo melu ngramekake
banyu kang kasebar
nggrejih
Opo iki kang diarani purwakaning mongso rendheng
Jatiningsih, 7 Oktober 2012
Senin, 08 Oktober 2012
Minggu, 07 Oktober 2012
PUISI: Rumah Kardus
Rumah Kardus
mimpi tergambar lewat dinding-dinding
partikel bekas pembungkus perabot
berbaris rapi di atas jaring limbah
bertumpu pilar penyangga yang rapuh
bergelayut pada dinding pencakar langit
beratapkan selangkangan jembatan
ada tawa semu di sana
teriak memelas bumi manusia
bermain dengan angan-angan metropilitan
berkejaran dengan sirine modernisasi
mimpi tergambar lewat dinding-dinding
partikel bekas pembungkus perabot
berbaris rapi di atas jaring limbah
bertumpu pilar penyangga yang rapuh
bergelayut pada dinding pencakar langit
beratapkan selangkangan jembatan
ada tawa semu di sana
teriak memelas bumi manusia
bermain dengan angan-angan metropilitan
berkejaran dengan sirine modernisasi
Selasa, 02 Oktober 2012
PUISI: Satu Arah
Satu Arah
angin tak mampu merasuk
dalam ruang
lewat celah-celah pembicaraan
tersumbat, terhimpit, terpaksa
sumarah pada laku yang tlah dikuasai
Pandhito
sesak
coba hela nafas kerinduan
pada angan masa depan
pada kebebasan
"Manut"
terucap tuk mengikuti dogma yang ada
"Turut"
pada batas yang diyentukan
saat mimpi menjadi kawan
tawarkan lelap
bahkan pada hangat yang menyelimuti
dan bintang-bintang menari di atas kepala
berkeliling sambil bernyanyi
angin tak mampu merasuk
dalam ruang
lewat celah-celah pembicaraan
tersumbat, terhimpit, terpaksa
sumarah pada laku yang tlah dikuasai
Pandhito
sesak
coba hela nafas kerinduan
pada angan masa depan
pada kebebasan
"Manut"
terucap tuk mengikuti dogma yang ada
"Turut"
pada batas yang diyentukan
saat mimpi menjadi kawan
tawarkan lelap
bahkan pada hangat yang menyelimuti
dan bintang-bintang menari di atas kepala
berkeliling sambil bernyanyi
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri Populer
-
LAMPU Seorang pria duduk di teras sambil memandang lampu yang menyala mencermati tetesan hujan yang lewa...
-
Novel PERANG Karya Putu Wijaya: Sebuah Renungan A. Pendahuluan Putu Wijaya (bernama asli I Gusti Ngurah Putu Wijaya) adalah seorang sastr...
-
Perang mimpi tak hanya jadi mimpi kini mereka menyerangku mengerat,mengikis, bahkan menghancurkan ota...
-
SARJANA Mereka bilang hidup perlu tujuan Mereka bilang derajat perlu dinaikkan Sarjana Impian dalam...
-
Ibu Kota Masihkah kau bernyanyi diantara cakar ayam pencengkeram perut kehidupan? Masihkah kau tersipu pada cermin pembelah muka? Sedu ...
-
Pak Tua (2) Nafasmu tersengal menahan rintih akan waktu yang semakin menindih Langkahmu tak lagi nyaring kala gesa meradang "H...
-
LELAH BERDIRI Gurat senja kali ini terhalang pekatnya mendung yang menggelora tak tampak seberkas cah...
-
Patung mendadak aku tak bisa bergerak terperangkap dalam ketakutan merintih pada sebuah tanya tak a...
-
KABUT Mereka datang menyerbu kala pagi merindukan hangatnya mentari menjaganya tetap dalam kesejukan...
-
Ruang Kosong tak sadar aku akan hadirmu dalam duniaku membawa kisah tak terkira mengembara dalam ruang h...