Perempuan dalam Kumpulan Puisi Madura, Akulah Darahmu karya D. Zawawi Imron
oleh Antonius Arlin Nurseta
Sajak atau puisi sebagai sarana pengungkapan perasaan bagi penyair memerlukan adanya pemanfaatan diksi yang tepat. Tidak semua orang memiliki pemilihan kata yang sama, bahkan dikatakan bahwa puisi itu multiinterpretasi bagi para penikmatnya (pembaca atau pendengar pembacaan puisi). Hal ini pula yang menyebabkan adanya polemik tentang makna dari sebuah puisi karena setiap orang memiliki hak untuk menerjemahkan isi puisi. Hanya saja, makna yang paling benar adalah makna yang hendak disampaikan oleh penulis melalui karyanya. Setiap penulis pasti memiliki kesan tersendiri terhadap karya-karya yang ia ciptakan.
Zawawi Imron dalam Kumpulan Puisi Madura, Akulah Darahmu memunculkan banyak hal yang sangat menarik. Diantaranya adalah pemakaian imaji-imaji yang menggambarkan alam tempat tinggalnya, yaitu Madura. Hal ini diungkapkan sebagai wujud kecintaannya terhadap tanah kelahirannya. Bahkan, menurut cerita, beliau adalah salah satu penyair dari Madura yang enggan meninggalkan tempat kelahirannya, misalnya untuk bermigrasi atau pindah tempat tinggal ke kota/provinsi lain.
Dalam karya-karyanya, Zawawi banyak menggunakan imaji visual yang menunjukkan keadaan alam ataupun budaya di Madura. Hal tersebut Nampak dalam penggunaan kata-kata misalnya: Batang-batang (dalam Nyanyian Kampung Halaman) dan celurit (dalam Celurit Emas dan Meditasi Celurit), kerapan (dalam Di Kebun Siwalan), dan merpati jantan merpati betina (dalam Seekor Merpati Luka).
Bagian yang paling menarik dalam kumpulan puisi ini terletak pada penceritaan perempuan melalui sebuah puisi. Hal ini Zawawi lakukan dalam beberapa puisinya, diantaranya: Ibu dan Gadis.
Dalam sajak Ibu, penyair mengungkapkan segala rasa yang dirasakan terhadap sang ibu dengan memanfaatkan diksi yang begitu mempesona. Seperti kata pepatah “harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri”, dalam sajak tersebut, penyair menyatakan bahwa kasih yang diberikan oleh ibu kepada anaknya adalah kasih yang berkualitas. Kasih ibu akan mendampingi anaknya dalam segala hal. Selain itu, penyair juga mengingatkan kita bahwa manusia yang paling berjasa adalah ibu yang telah melahirkan, merawat, dan mendidik hingga kita bisamenjadi pribadi yang mandiri. Dalam puisi ini, dinyatakan pula bahwa kita tidak akan sanggup membalas segala budi baik yang telah ibu berikan kepada kita. Pesan moral yang begitu kental kepada kita adalah agar kita bisamenghargai dan menganggap “ada” wanita di sekitar kita yang menjadi poros, landasan, dan asal dari kehidupan. Bahkan dalam puisi tersebut penyair menyatakan bahwa pahlawan yang ada dalam pikirannya adalah ibunya.
IBU
kalau aku merantau lalu dating musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancer mengalir
bila aku meranyau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa ku bayar
ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yangmeletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyerbak bau saying
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudra
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
Ibula itu, bidadari yang berselendang bianglala
Sesekali datang padaku
Menyuruhku menulis langit biru
Dengan sajakku
1966
Dalam Sajak Gadis, penyair kembali menutarakan kekagumannya kepada sosok perempuan seperti terlihat dalam baris bahkan mataangin juga pun rimba/senang memeram wangi rambutnya dan bahkan mataangin pun rimba/setia menjaga jejak kakinya. Untaian kata-kata tersebut neyiratkan pesan bahwa wanita/perempuan adalah sesuati yang menarik dan harus dijaga.
GADIS
bahkan mataangin juga pun rimba
senang memeram wangi rambutnya
maka kebisuan pun
meminta seribu duga
kembang turi yang dipungutnya
dulu ketika paceklik tiba
telah mekar pada mata
dengan akar minum ke jantung telaga
bintang apa bergumpal di tenggara?
malam-malam bujang haus
bersandar di pohon siwalan
pagi datang, ranum-ranum buah mangga
bahkan mataangin juga pun rimba
setia menjaga jejak kakinya
tanah coklat musim penghujan
diam-diam minta disungkal
1978
Zawawi Imron. 1999. Madura, Akulah Darahmu. Jakarta: Gramedia.
Jumat, 31 Desember 2010
PUISI
Langit Sore
dalam putaran waktu yang tak mau berhenti
dan tak mau lagi mengulangi
rasa yang tak pernah sama
kali ini justru kesedihan yang terasa
bukan euphoria kebahagiaan
langitpun mengikuti rasaku
mendung menyelimuti
seakan tahu sendu dalam dadaku
yang belum terobati
sesal
apa yang telah aku lakukan?
mengiris senyum yang biasa menemani
dengan sembilu yang tak berdosa
mengubur tawa berseri
yang muncul dalam canda
menyemai benih ketidaknyamanan
dengan kalimat setan
dalam hati yang bertuan
dalam rasa yang tak berkenan
memberi warna kegelapan
harap
kuingin kau tahu
sesal dalam dadaku
smasa kutebarkan pilu
dalam kata yang kelabu
kuingin kau tahu
aku mengharapkanmu
tuk kembali tersenyum bagiku
tuk kembali membingkai hariku
dengan indahnya lagu
kemesraan yang kan slalu bertemu
31.12.2010
dalam putaran waktu yang tak mau berhenti
dan tak mau lagi mengulangi
rasa yang tak pernah sama
kali ini justru kesedihan yang terasa
bukan euphoria kebahagiaan
langitpun mengikuti rasaku
mendung menyelimuti
seakan tahu sendu dalam dadaku
yang belum terobati
sesal
apa yang telah aku lakukan?
mengiris senyum yang biasa menemani
dengan sembilu yang tak berdosa
mengubur tawa berseri
yang muncul dalam canda
menyemai benih ketidaknyamanan
dengan kalimat setan
dalam hati yang bertuan
dalam rasa yang tak berkenan
memberi warna kegelapan
harap
kuingin kau tahu
sesal dalam dadaku
smasa kutebarkan pilu
dalam kata yang kelabu
kuingin kau tahu
aku mengharapkanmu
tuk kembali tersenyum bagiku
tuk kembali membingkai hariku
dengan indahnya lagu
kemesraan yang kan slalu bertemu
31.12.2010
PUISI
Menyesal
ketika orang-orang membicarakan rencana
menghabiskan malam pergantian tahun
aku duduk termenung
dengan nafas tersengal sisa kesalahan
yang baru saja kulakukan
menatap kaca yang tak bisa berbohong
akan kesalahanku itu
ya, salah satu kesalahan besar
yang kulakukan dalam tahun ini
aku telah menyakiti hati
orang yang sering memberikan semangat bagiku
orang yang sebenarnya kusayangi
dan ternyata
kata maafku kini
belum bisa berpengaruh
itu yang membuatku kali ini smakin tertekan
dalam rasa yang tak nyaman
kucoba tukhilangkan kekecewaanku
tapi tetap belum bergeming
tetap diam tanpa kata
dan aku pun semakin
merasa bersalah
akankah rasa ini kembali seperti dahulu
ataukah justru semakin buruk
aku tak tahu
aku hanya berharap
smua lekas selesai
smua lekas kembali
sperti sedia kala
31.12.2010
ketika orang-orang membicarakan rencana
menghabiskan malam pergantian tahun
aku duduk termenung
dengan nafas tersengal sisa kesalahan
yang baru saja kulakukan
menatap kaca yang tak bisa berbohong
akan kesalahanku itu
ya, salah satu kesalahan besar
yang kulakukan dalam tahun ini
aku telah menyakiti hati
orang yang sering memberikan semangat bagiku
orang yang sebenarnya kusayangi
dan ternyata
kata maafku kini
belum bisa berpengaruh
itu yang membuatku kali ini smakin tertekan
dalam rasa yang tak nyaman
kucoba tukhilangkan kekecewaanku
tapi tetap belum bergeming
tetap diam tanpa kata
dan aku pun semakin
merasa bersalah
akankah rasa ini kembali seperti dahulu
ataukah justru semakin buruk
aku tak tahu
aku hanya berharap
smua lekas selesai
smua lekas kembali
sperti sedia kala
31.12.2010
Sabtu, 25 Desember 2010
PUISI
Debu Isyaratkan Luka
di antara puing keramaian kota
setelah badai lava melanda
kulihat seorang anak kecil
duduk termangu menatap sebuah batu
ya, sebuah batu
batu yang menjadi saksi bisu
lumatnya negeri dalam mimpi
pulau yang selalu menjadi tanah terjanji baginya
tampak debu di keningnya mulai kering
bercampur keringat yang tak lagi keluar dari kulitnya
dan dia mulai menggoreskan aksara
yang menyiratkan pilu
dalam warna yang masih saja kelabuu
sayu
tak ada senyum terlintas dalam rautmu
tak adaceria yang dulu ada
25-12-2010: 12.05
di antara puing keramaian kota
setelah badai lava melanda
kulihat seorang anak kecil
duduk termangu menatap sebuah batu
ya, sebuah batu
batu yang menjadi saksi bisu
lumatnya negeri dalam mimpi
pulau yang selalu menjadi tanah terjanji baginya
tampak debu di keningnya mulai kering
bercampur keringat yang tak lagi keluar dari kulitnya
dan dia mulai menggoreskan aksara
yang menyiratkan pilu
dalam warna yang masih saja kelabuu
sayu
tak ada senyum terlintas dalam rautmu
tak adaceria yang dulu ada
25-12-2010: 12.05
PUISI
KASIH YANG TAK TERTANDINGI
DALAM BALUTAN KASIH TAK TERPERI
DALAM BELAIAN SAYANG NAN MANJA
DALAM PELUKAN KEBIJAKSANAAN YANG TIADA TARA
ENGKAU LAHIR
SANG PENEBUS
DI KALA MALAM YANG SEPI
DITEMANI BINTANG-BINTANG YANG BERSERI
KAU MENJADI CAHYA YANG TAK TERGANTI
MENJADI MISTERI DAN TANDA KEBESARAN ILAHI
KAU TLAH HADIR
DALAM HIRUK PIKUK PERGUMULAN
DALAM KERUWETAN PERGULATAN
MENJADI TERANG DALAM KEGELAPAN
MENJADI JALAN KEBENARAN
MENJADI PENGOBAT RINDU
RINDU AKAN KEMERDEKAAN
RINDU AKAN KEBAHAGIAAN
YANG KINI KAN SLALU ADA
SAATNYA KITA BERBAGI
SAATNYA KITA MEMBERI
KASIH YANG TAK TERTANDINGI
25 Desember 2010 jam 8:48
DALAM BALUTAN KASIH TAK TERPERI
DALAM BELAIAN SAYANG NAN MANJA
DALAM PELUKAN KEBIJAKSANAAN YANG TIADA TARA
ENGKAU LAHIR
SANG PENEBUS
DI KALA MALAM YANG SEPI
DITEMANI BINTANG-BINTANG YANG BERSERI
KAU MENJADI CAHYA YANG TAK TERGANTI
MENJADI MISTERI DAN TANDA KEBESARAN ILAHI
KAU TLAH HADIR
DALAM HIRUK PIKUK PERGUMULAN
DALAM KERUWETAN PERGULATAN
MENJADI TERANG DALAM KEGELAPAN
MENJADI JALAN KEBENARAN
MENJADI PENGOBAT RINDU
RINDU AKAN KEMERDEKAAN
RINDU AKAN KEBAHAGIAAN
YANG KINI KAN SLALU ADA
SAATNYA KITA BERBAGI
SAATNYA KITA MEMBERI
KASIH YANG TAK TERTANDINGI
25 Desember 2010 jam 8:48
PUISI
SESAL
dalam waktu yang trus berjalan
mengingatmu adalah bayangan
masa yang tlah jadi bagian
putaran tak tergantikan
masaku tak mungkin kekal
dalam balutan sesal
yang smakin menggumpal
akan sgala bebal
dan kini
waktu tak mau memutar kembali
bahkan tuk sejenak berhenti
dalam lamunan mimpi
beranjak meninggalkan pagi
25-12-2010: 07.32
dalam waktu yang trus berjalan
mengingatmu adalah bayangan
masa yang tlah jadi bagian
putaran tak tergantikan
masaku tak mungkin kekal
dalam balutan sesal
yang smakin menggumpal
akan sgala bebal
dan kini
waktu tak mau memutar kembali
bahkan tuk sejenak berhenti
dalam lamunan mimpi
beranjak meninggalkan pagi
25-12-2010: 07.32
Jumat, 24 Desember 2010
PUISI
Sisi Lain
aku pernah berpikir bahwa
bumiku adalah yang terbaik
bumiku adalah yang terindah
bumiku adalah surgaku
dan kaupun mungkin
berpikir sepertiku
dan kini pikirku berubah
aku ada di dunia lain
yang ternyata tak kalah indah
daripada milikku dulu
ini dunia ke dua ku
ini semuajuga milikmu
(20-12-2010: 14.00)
aku pernah berpikir bahwa
bumiku adalah yang terbaik
bumiku adalah yang terindah
bumiku adalah surgaku
dan kaupun mungkin
berpikir sepertiku
dan kini pikirku berubah
aku ada di dunia lain
yang ternyata tak kalah indah
daripada milikku dulu
ini dunia ke dua ku
ini semuajuga milikmu
(20-12-2010: 14.00)
PUISI
Bosan
Hujan kembali memanggilku
Dalam gelap yang membelenggu
diantara tutur yang berdebu
Terhadap waktu yang melaju
Terngiang dalam diamku
Memandang kerak bumiku
Yang mulai basah oleh hujan
Dan genang air dalam cawan
Telingaku terusik lagu merdumu
Menggema dalam kalbu
Mengendap dalam deru
Laju percepatan waktu
Aku bosan
Jika hanya diam
(Patuk, 20-12-2010: 13.40)
Hujan kembali memanggilku
Dalam gelap yang membelenggu
diantara tutur yang berdebu
Terhadap waktu yang melaju
Terngiang dalam diamku
Memandang kerak bumiku
Yang mulai basah oleh hujan
Dan genang air dalam cawan
Telingaku terusik lagu merdumu
Menggema dalam kalbu
Mengendap dalam deru
Laju percepatan waktu
Aku bosan
Jika hanya diam
(Patuk, 20-12-2010: 13.40)
Senin, 06 Desember 2010
PUISI
UNTUKMU IBU
AKU HANYA BISA MENGANYAM SELENDANG DOA
DI ANTARA RIBUAN HARTA YANG KAU BERI UNTUKKU
AKU HANYABISA MEMBERI WANGI BUNGA
DI ANTARA LUAPAN CINTA YANG KAU BERI UNTUKKU
ENTAH BERAPA BANYAK HUTANG YANG BELUM BISA KU BAYAR
ENTAH BERAPA BANYAK DOSAKU YANG BELUM BISA KUTEBUS
IBU
ENGKAU PELITA DALAM RUANG SENDU
KU INGIN SENYUMMU SLALU MENGHIAS PANDANGANKU
06.12.2010: 09.30
AKU HANYA BISA MENGANYAM SELENDANG DOA
DI ANTARA RIBUAN HARTA YANG KAU BERI UNTUKKU
AKU HANYABISA MEMBERI WANGI BUNGA
DI ANTARA LUAPAN CINTA YANG KAU BERI UNTUKKU
ENTAH BERAPA BANYAK HUTANG YANG BELUM BISA KU BAYAR
ENTAH BERAPA BANYAK DOSAKU YANG BELUM BISA KUTEBUS
IBU
ENGKAU PELITA DALAM RUANG SENDU
KU INGIN SENYUMMU SLALU MENGHIAS PANDANGANKU
06.12.2010: 09.30
Jumat, 03 Desember 2010
PUISI
Wanita Terhebat
Siang berganti malam
Kau tetap tebarkan senyum
Walau dalam galau hatimu
Kau tetap tersenyum
Waktu serasa kurang bagimu
Tuk slalu menebar kasih bagiku
Tuk slalu beri yang terbaik bagiku
Kau dedikasikan hidupmu
Tuk jadi pelayan
Yang slalu kau lakukan dengan ikhlas
Dengan senyum
Senyum yang kan slalu merekah
Senyum yang tak lekang oleh waktu
Ibu
03.12.2010: 21.00
Siang berganti malam
Kau tetap tebarkan senyum
Walau dalam galau hatimu
Kau tetap tersenyum
Waktu serasa kurang bagimu
Tuk slalu menebar kasih bagiku
Tuk slalu beri yang terbaik bagiku
Kau dedikasikan hidupmu
Tuk jadi pelayan
Yang slalu kau lakukan dengan ikhlas
Dengan senyum
Senyum yang kan slalu merekah
Senyum yang tak lekang oleh waktu
Ibu
03.12.2010: 21.00
PUISI
Nyanyian Malam
Diiringi gemericik air hujan
Dan derasnya gelombang sungai
Kau dendangkan lagu merdu
Dalam belaian malam yang dingin
Memberi warna yang kan tetap ada
Lolongan anjing di sela lagumu
Menambah meriah keredupan cahyamu
Serangga malam yang berterbangan
Kelelawar yang bersembunyi dalam bumbung
Katak dan jangkerik yang saling sapa
Menjadi bagian yang tak terlepaskan
03.12.2010: 18.45
Diiringi gemericik air hujan
Dan derasnya gelombang sungai
Kau dendangkan lagu merdu
Dalam belaian malam yang dingin
Memberi warna yang kan tetap ada
Lolongan anjing di sela lagumu
Menambah meriah keredupan cahyamu
Serangga malam yang berterbangan
Kelelawar yang bersembunyi dalam bumbung
Katak dan jangkerik yang saling sapa
Menjadi bagian yang tak terlepaskan
03.12.2010: 18.45
Kamis, 02 Desember 2010
PUISI
Aku Ingin
Aku ingin seperti bakau
Menahan pantai yang memukau
Aku ingin seperti kelapa
Smua bisa berguna
Aku ingin seperti air
Memberi kesejukan dalam getir
Aku ingin seperti udara
Yang kau hirup tanpa biaya
Aku ingin seperti lagu
Yang menghiburmu dalam sendu
Aku ingin seperti rumput
Yang selalu sedia dan ikhlas tuk direnggut
01.12.2010: 13.55
Aku ingin seperti bakau
Menahan pantai yang memukau
Aku ingin seperti kelapa
Smua bisa berguna
Aku ingin seperti air
Memberi kesejukan dalam getir
Aku ingin seperti udara
Yang kau hirup tanpa biaya
Aku ingin seperti lagu
Yang menghiburmu dalam sendu
Aku ingin seperti rumput
Yang selalu sedia dan ikhlas tuk direnggut
01.12.2010: 13.55
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri Populer
-
LAMPU Seorang pria duduk di teras sambil memandang lampu yang menyala mencermati tetesan hujan yang lewa...
-
Novel PERANG Karya Putu Wijaya: Sebuah Renungan A. Pendahuluan Putu Wijaya (bernama asli I Gusti Ngurah Putu Wijaya) adalah seorang sastr...
-
Perang mimpi tak hanya jadi mimpi kini mereka menyerangku mengerat,mengikis, bahkan menghancurkan ota...
-
SARJANA Mereka bilang hidup perlu tujuan Mereka bilang derajat perlu dinaikkan Sarjana Impian dalam...
-
Ibu Kota Masihkah kau bernyanyi diantara cakar ayam pencengkeram perut kehidupan? Masihkah kau tersipu pada cermin pembelah muka? Sedu ...
-
Pak Tua (2) Nafasmu tersengal menahan rintih akan waktu yang semakin menindih Langkahmu tak lagi nyaring kala gesa meradang "H...
-
LELAH BERDIRI Gurat senja kali ini terhalang pekatnya mendung yang menggelora tak tampak seberkas cah...
-
Patung mendadak aku tak bisa bergerak terperangkap dalam ketakutan merintih pada sebuah tanya tak a...
-
KABUT Mereka datang menyerbu kala pagi merindukan hangatnya mentari menjaganya tetap dalam kesejukan...
-
Ruang Kosong tak sadar aku akan hadirmu dalam duniaku membawa kisah tak terkira mengembara dalam ruang h...