Embun Pagi
gelitikmu menerobos
deru langkah kereta
mesin
menyelimuti keramaian kota
yang mulai menggeliat
hiruk pikuk
membungkus gelap
mengibaskan lengan
dinginkan bara
mataku tak lagi mampu
benamkan rintih
pada sejuk yang menggelora
bersama
senyum mentari
yang masih lelap dalam persembuyian
terkurung bulir murni
sang pagi
Rabu, 30 Maret 2011
Sabtu, 19 Maret 2011
PUISI
LORONG KELAM
ku buka mataku
yang tlah membuaiku
pada mimpi yang semu
akan kisah tak tentu
'Aku masih ingat
lingkaran waktu yang tlah menuntunku
pada kelabu
pada jalan tak tentu
pada janji palsu'
dan malaikat mimpi berbisik padaku
'tak usah ragu, aku kan menemanimu'
bagaimana bisa kutawarkan mimpi
mimpi kelam kala terang menyambangi
membius relung hati
tuk kembali mengikuti
bayanganmu masih melirikku
dalam putaran waktu
mengiring langkah tak jemu
menipu
bingkai
lukisan nan indah
menutup mata pada cela
pada nila tanpa kira
ku buka mataku
yang tlah membuaiku
pada mimpi yang semu
akan kisah tak tentu
'Aku masih ingat
lingkaran waktu yang tlah menuntunku
pada kelabu
pada jalan tak tentu
pada janji palsu'
dan malaikat mimpi berbisik padaku
'tak usah ragu, aku kan menemanimu'
bagaimana bisa kutawarkan mimpi
mimpi kelam kala terang menyambangi
membius relung hati
tuk kembali mengikuti
bayanganmu masih melirikku
dalam putaran waktu
mengiring langkah tak jemu
menipu
bingkai
lukisan nan indah
menutup mata pada cela
pada nila tanpa kira
Kamis, 17 Maret 2011
PUISI
MASIH ADA ASA
mimpiku menggoda awan gelap
yang mulai menggumpal
di angkasa
mengikis kelam tuk hadirkan
tawa
riang canda dalam belaian
kasihMu
lewat bara didada
yang kan tentramkan masa
meski rintik hujan berbisik
tawarkan janji kesejukan
aku takkan ingkar
bersama nadi
berdetak
gumpalkan asa
tak hanya tuk sejenak
menggapai nur ilahi yang kekal
sbab Kau tlah berjanji
kan membawaku
pada kasih yang abadi
mimpiku menggoda awan gelap
yang mulai menggumpal
di angkasa
mengikis kelam tuk hadirkan
tawa
riang canda dalam belaian
kasihMu
lewat bara didada
yang kan tentramkan masa
meski rintik hujan berbisik
tawarkan janji kesejukan
aku takkan ingkar
bersama nadi
berdetak
gumpalkan asa
tak hanya tuk sejenak
menggapai nur ilahi yang kekal
sbab Kau tlah berjanji
kan membawaku
pada kasih yang abadi
PUISI
SESAAT
senyummu biaskan cemas
bersama rentetan angan
pelangi
terbang ke angkasa
merengek pada angin
tuk sekedar membawa
melayang
harap tak tersesat
hadir dalam doa dan sumpah serapah
palsu
menggigit mimpi
bangunkan tidur
mentari mulai membelaimu dengan bara
di antara bulu roma
meyeruak
dan menampar kalbu
tuk singkirkan embun pagi
senyummu biaskan cemas
bersama rentetan angan
pelangi
terbang ke angkasa
merengek pada angin
tuk sekedar membawa
melayang
harap tak tersesat
hadir dalam doa dan sumpah serapah
palsu
menggigit mimpi
bangunkan tidur
mentari mulai membelaimu dengan bara
di antara bulu roma
meyeruak
dan menampar kalbu
tuk singkirkan embun pagi
PUISI
HARUSKAH KUPU-KUPU MENGALAH
kupu-kupu merajuk
pada asoka
tuk sambangi madu
'aku tak punya lagi'
mata malam pun slalu mengintip
menahan laju kuncup
merekah dalam pelukan
taman
semerbak senyum
dan kumbang pun menyerbu
meninggalkan keriput sisa
pada keindahan sayap
yang tak cukup
tuk sekedar jadi pengobat
angan manis
bibirnya
yang mulai kaku
kupu-kupu merajuk
pada asoka
tuk sambangi madu
'aku tak punya lagi'
mata malam pun slalu mengintip
menahan laju kuncup
merekah dalam pelukan
taman
semerbak senyum
dan kumbang pun menyerbu
meninggalkan keriput sisa
pada keindahan sayap
yang tak cukup
tuk sekedar jadi pengobat
angan manis
bibirnya
yang mulai kaku
PUISI
MIMPI SANG MALAM
gurat jingga tersenyum
di antara tebaran awan kelabu
berbisik pada malam
'aku kan menjemputmu kelak'
malam pun berbinar
sbab bintang kan menemaninya
habiskan sepi
berserita tentang mimpi
'mampukah aku memeluk
mentari
dengan selimut saljuku
ataukah hanya bulan
yang kan jadi pengganti'
bersanding
sementara mentari
kian lelap dalam peraduan
gurat jingga tersenyum
di antara tebaran awan kelabu
berbisik pada malam
'aku kan menjemputmu kelak'
malam pun berbinar
sbab bintang kan menemaninya
habiskan sepi
berserita tentang mimpi
'mampukah aku memeluk
mentari
dengan selimut saljuku
ataukah hanya bulan
yang kan jadi pengganti'
bersanding
sementara mentari
kian lelap dalam peraduan
PUISI
TERTEGUN
membelah kegelapan
waktu tak mau berhenti
memutar takdir insan
membingkai peluh mimpi
goreskan sajak
penghibur mentari
yang kian beranjak
meninggalkan pagi
bulan pun menari
bersama bintang menemani
tatanan maha ilahi
bagi kemegahan diri
aku tertegun
menatap langit
tak berujung
yang kian anggun
dengan senyum legit
meretas sanjung
semilir angin temani anganku
kian melayang
dituntun langkah sang waktu
membelah kegelapan
waktu tak mau berhenti
memutar takdir insan
membingkai peluh mimpi
goreskan sajak
penghibur mentari
yang kian beranjak
meninggalkan pagi
bulan pun menari
bersama bintang menemani
tatanan maha ilahi
bagi kemegahan diri
aku tertegun
menatap langit
tak berujung
yang kian anggun
dengan senyum legit
meretas sanjung
semilir angin temani anganku
kian melayang
dituntun langkah sang waktu
Sabtu, 12 Maret 2011
PUISI
Timbangan
di sini
aku berdiri
bersama api
menerobos dinginnya sepi
mengoyak mimpi
penjagal insani
yang tak mau peduli
pada maut yang kian melejit
merenggut napasangan pribumi
mereka berlari
menerobos janji
dari lidah api
dan bibir sendiri
lupa
ataukah
sengaja
membalik kata tanpa pinta
malu
mungkinkah
atau justru bebal
yang smakin menebal
menutup diri dari sgala cela
mengiris kerak limpahan harta
dengarkah kau
akan keluh kesah kami
yang smakin bermimpi
akan keadilan nyata
ataukah hanya
Dia yang paham
derita kami
di sini
aku berdiri
bersama api
menerobos dinginnya sepi
mengoyak mimpi
penjagal insani
yang tak mau peduli
pada maut yang kian melejit
merenggut napasangan pribumi
mereka berlari
menerobos janji
dari lidah api
dan bibir sendiri
lupa
ataukah
sengaja
membalik kata tanpa pinta
malu
mungkinkah
atau justru bebal
yang smakin menebal
menutup diri dari sgala cela
mengiris kerak limpahan harta
dengarkah kau
akan keluh kesah kami
yang smakin bermimpi
akan keadilan nyata
ataukah hanya
Dia yang paham
derita kami
PUISI
Kemarau
daun-daun mulai berguguran
memandang negri yang tak lagi
beraturan
angkara menyelimuti awan
panas meniupkan derita tak bertepi
'aku berjalan di antara bara
api kemiskinan
lembah penderitaan'
kisah peri kekejaman
membabi buta membakar
mimpi
penghuni kolong jembatan
mengubur ceria dalam batin
mengoyak senyum
daun-daun mulai berguguran
memandang negri yang tak lagi
beraturan
angkara menyelimuti awan
panas meniupkan derita tak bertepi
'aku berjalan di antara bara
api kemiskinan
lembah penderitaan'
kisah peri kekejaman
membabi buta membakar
mimpi
penghuni kolong jembatan
mengubur ceria dalam batin
mengoyak senyum
PUISI
Bintang Timur
malam kelam membungkus
bunga tidur
membuai diri pada indahnya
pelangi
semilir angin temani
sepi
bersama jangkrik
bernyanyi
berbisik pada diri
dia kan kembali
'kudengar bisikmu malam
pada pagi yang ku jemu
kala ku menunggu
sang fajar pagi
membingkai akhir mimpiku
membawaku akan nyata'
terang benderang
tunjukkan rona cemerlang
tebarkan senyum pengharapan
yang kan kujelang
malam kelam membungkus
bunga tidur
membuai diri pada indahnya
pelangi
semilir angin temani
sepi
bersama jangkrik
bernyanyi
berbisik pada diri
dia kan kembali
'kudengar bisikmu malam
pada pagi yang ku jemu
kala ku menunggu
sang fajar pagi
membingkai akhir mimpiku
membawaku akan nyata'
terang benderang
tunjukkan rona cemerlang
tebarkan senyum pengharapan
yang kan kujelang
PUISI
HOMO...
si pejabat teras
sedang duduk di teras
sambil melihat orang memerah sapi
sampai mukanya memerah kecapekan
dan tak lagi tahu
bahwa tahu goreng di sampingnya sudah digerogoti semut
ia membaca buku
tentang buku tebu
yang membuatnya sangsi
atas sanksi yang didapatnya
karna dia telah
memasak buah yang belum memasak
milik tetangga
si pejabat teras
sedang duduk di teras
sambil melihat orang memerah sapi
sampai mukanya memerah kecapekan
dan tak lagi tahu
bahwa tahu goreng di sampingnya sudah digerogoti semut
ia membaca buku
tentang buku tebu
yang membuatnya sangsi
atas sanksi yang didapatnya
karna dia telah
memasak buah yang belum memasak
milik tetangga
Rabu, 09 Maret 2011
PUISI
Rindu Fajar Pagi
kabut kembali menyelimuti pagiku
dia antara gundukan tanah bertuan
membagi dingin pada diri
yang masih saja merasa terasing
dalampengembaraan sang waktu
berjalan bersama genderang yang menderu
mengikis sepi dalam luapan lagu
sumbang
'Di mana senyummu fajar pagiku
yang kan slalu ku rindu
mengisi hari-hari berpacu
dengan mimpi yang slalu memanggilku'
angan mulai terbayang
pada kelam malam tak bercagaya
merindumu sbagai pelita
penerang jalan menggapai bahgya
kabut kembali menyelimuti pagiku
dia antara gundukan tanah bertuan
membagi dingin pada diri
yang masih saja merasa terasing
dalampengembaraan sang waktu
berjalan bersama genderang yang menderu
mengikis sepi dalam luapan lagu
sumbang
'Di mana senyummu fajar pagiku
yang kan slalu ku rindu
mengisi hari-hari berpacu
dengan mimpi yang slalu memanggilku'
angan mulai terbayang
pada kelam malam tak bercagaya
merindumu sbagai pelita
penerang jalan menggapai bahgya
PUISI
DUA SISI
duduk di sudut ruang
seorang perempuan dengan tangan
menyangga kepala
berpikir dalam remang waktu
kala angan tak sempat tertemu
berbisik pada sepi
merangkai bait sumpah serapah
'Aku hanya ingin semua menjadi sempurna'
akankah demikian
ataukah justru pikirmu yang mempersulit
kesal
kala waktu semakin sempit
menghimpit
dan membuat berpikir sulit
'kali ini malaikat mimpi tak mau menolongku'
sorot matamu tak mau berhenti
pada satu titik
mengumbar ancaman
pada detik sang waktu
menatapku dengan penuh ragu
akan jawab pada tanya itu
hembusan angin tawarkan jawab
rindu akan kesempurnaan
dan
bibir mulai mengecap manis angan
sekaligus semburkan getir
pada gelap waktu di sampingmu
tanganmu mulai menyelinap
di antara bayang janji
yang pernah terucap
membuka lembaran dogma
yang tak sempat teringat
aku tetap diam
memandang tarian pikir
bersama kegelisahan
yang tak mau menghilang
memelukmu dengan mesra
duduk di sudut ruang
seorang perempuan dengan tangan
menyangga kepala
berpikir dalam remang waktu
kala angan tak sempat tertemu
berbisik pada sepi
merangkai bait sumpah serapah
'Aku hanya ingin semua menjadi sempurna'
akankah demikian
ataukah justru pikirmu yang mempersulit
kesal
kala waktu semakin sempit
menghimpit
dan membuat berpikir sulit
'kali ini malaikat mimpi tak mau menolongku'
sorot matamu tak mau berhenti
pada satu titik
mengumbar ancaman
pada detik sang waktu
menatapku dengan penuh ragu
akan jawab pada tanya itu
hembusan angin tawarkan jawab
rindu akan kesempurnaan
dan
bibir mulai mengecap manis angan
sekaligus semburkan getir
pada gelap waktu di sampingmu
tanganmu mulai menyelinap
di antara bayang janji
yang pernah terucap
membuka lembaran dogma
yang tak sempat teringat
aku tetap diam
memandang tarian pikir
bersama kegelisahan
yang tak mau menghilang
memelukmu dengan mesra
Selasa, 08 Maret 2011
PUISI
SUDAHLAH
Masih terlihat luka
dalam hitam matamu
yang coba kau tutup dengan
senyum maya
Masih terlihat lebam
dalam batas anganmu
yang coba kau sibak dengan
kata nan semu
Begitu dalamkah
goresan yang kau rasakan
akan mulut menganga
kawan karib
Begitu sulitkah
menghapus dendam yang kau tanamkan
dalam makna batu
menggumpal dalam batinmu
Sudahlah.
Masih terlihat luka
dalam hitam matamu
yang coba kau tutup dengan
senyum maya
Masih terlihat lebam
dalam batas anganmu
yang coba kau sibak dengan
kata nan semu
Begitu dalamkah
goresan yang kau rasakan
akan mulut menganga
kawan karib
Begitu sulitkah
menghapus dendam yang kau tanamkan
dalam makna batu
menggumpal dalam batinmu
Sudahlah.
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri Populer
-
LAMPU Seorang pria duduk di teras sambil memandang lampu yang menyala mencermati tetesan hujan yang lewa...
-
Novel PERANG Karya Putu Wijaya: Sebuah Renungan A. Pendahuluan Putu Wijaya (bernama asli I Gusti Ngurah Putu Wijaya) adalah seorang sastr...
-
Perang mimpi tak hanya jadi mimpi kini mereka menyerangku mengerat,mengikis, bahkan menghancurkan ota...
-
SARJANA Mereka bilang hidup perlu tujuan Mereka bilang derajat perlu dinaikkan Sarjana Impian dalam...
-
Ibu Kota Masihkah kau bernyanyi diantara cakar ayam pencengkeram perut kehidupan? Masihkah kau tersipu pada cermin pembelah muka? Sedu ...
-
Pak Tua (2) Nafasmu tersengal menahan rintih akan waktu yang semakin menindih Langkahmu tak lagi nyaring kala gesa meradang "H...
-
LELAH BERDIRI Gurat senja kali ini terhalang pekatnya mendung yang menggelora tak tampak seberkas cah...
-
Patung mendadak aku tak bisa bergerak terperangkap dalam ketakutan merintih pada sebuah tanya tak a...
-
KABUT Mereka datang menyerbu kala pagi merindukan hangatnya mentari menjaganya tetap dalam kesejukan...
-
Ruang Kosong tak sadar aku akan hadirmu dalam duniaku membawa kisah tak terkira mengembara dalam ruang h...