Selasa, 19 April 2011

PUISI

Menjerang Mimpi

saat mimpiku semakin samar akan nyata
kulangkahkan pena membasuh warna
tebarkan pelangi pada diri
tuk kembali pada bara di hati

lenggak-lenggok goresan hitam
wakili asa dalam benak ini
meski ku masih harus menanti
kristal mimpi menjadi senyum

dan aku terus berlari
menatap sinar terang yang memanggilku
dalam harap yang tak kan pernah padam
karna ku yakin
janjimu adalah pasti
bukan lagi sekedar mimpi

aku terus berlari
bersama tetesan embun yang slalu menemani
basuh dahagaku
kembalikan harapanku

bersama waktu yang tak mau menungguku
aku tetap berlari
meski kerikil tajam siap hempaskanku
pada remang cahya
AKU TETAP BERLARI

Senin, 18 April 2011

PUISI

Terdiam

semilir angin mengupas sepi dalam sendiri
membelai angan biaskan mimpi
bersama senyum mentari

sunyi berbingkai alunan merdu
nyanyian pertiwi
sejukkan kalbu

aku terdiam
memandang keramaian air
berkejaran tak mau diam
layaknya roda yang slalu berputar
tanpa keringat bercucuran
terus bergejolak

desahan daun kian menggema
tatkala rintik hujan mulai menyambangi
aku masih terdiam

Kamis, 07 April 2011

PUISI

MENJELANG SENJA

gemericik air temani binar matamu
sore itu
menghentikan terik sementara
meredup bersama putaran roda waktu
mereka berteriak
bernyanyi riang mengisi jajaran ruang kosong
yang mulai ditinggalkan

aku berlari
mengejar siul mimpi yang mulai membuaiku
mengajak tuk sejenak lupakan asa
mengurai gumpalan lelah

dan anak-anak kecil mulai berdendang
sajak keceriaan senja
peragakan tarian senyum
memanggil dewi malam
yang biasa muncul dalam kelembutan

aku tak mau pergi
dari detik yang tak mau berhenti

Sabtu, 02 April 2011

PUISI

Senyum Pemilik Malam

kabut mulai turun
membelai malam
di puncak peradaban
mimpi kan kembali menemani
kala larut dalam kegelapan
namun
binar matamu semakin cerah
memandang pertiwi yang kian muram
oleh perilaku insan

binar cahyamu
tebarkan senyum pemilik malam
yang terus bernyanyi
bersama jangkrik yang turut berdendang

PUISI

TERSIRAT

tergolek ranting cemas
membelai mimpi rumpang
menghilang bersama
tetes embun
biaskan keramaian
peluh kota
yang kian membara
membakar liris dogma
cemarkan makna

dicibirkan
buaian angin
kian menusuk kalbu
menampar ingatan
menggiring amarah
menggelinding
memutar makna
menggeser kata
tatkala diam

Entri Populer