Merpati Putih
Malaikat pagi membangunkanku
bersama rintik sinar mentari
menyibak tabir gelap ini
tamparkan silau kejutkan diri
nyeri tak terperi
getar membuatku ngeri
jika jalan lapang tak menjadi
penyejuk hati
Jiwaku bertarung
singkirkan debu kian tebal
membungkus kelam
Merpati putih, gagak mulai berebut
patoki kepalaku
goreskan janji pada anganku
‘Dia milikku’
“Milikku”
‘Milikku’
“Milikku”
Bimbang memanggil dalam keramaian pikir
‘’’Mana yang harus kupilih?’’’
Sejenak kuterdiam
memandang rajut butir penyebut namaMu
‘’’Merpati putih, Engkau memanggilku?’’’
LafalMu terus terucap bersama kebimbangan yang kian terkikis
beranjak dari kelabu
‘’’Aku harus memilih!
Keteguhan hati ataukah lukisan mimpi?’’’
Rayuan gagak masih menggelayuti
bujuk langkahku, geser keyakinan
‘’’Tidak!
Aku milikNya
kompas takkan salah
tunjukkan duniaku’’’
Kulangkahkan kaki kecilku bersama tumpukan harap
pada jalan yang Kau tunjukkan
hingga senyum
bahkan
tawa
takkan kulepas lagi