Jumat, 31 Desember 2010

ARTIKEL

Perempuan dalam Kumpulan Puisi Madura, Akulah Darahmu karya D. Zawawi Imron
oleh Antonius Arlin Nurseta

Sajak atau puisi sebagai sarana pengungkapan perasaan bagi penyair memerlukan adanya pemanfaatan diksi yang tepat. Tidak semua orang memiliki pemilihan kata yang sama, bahkan dikatakan bahwa puisi itu multiinterpretasi bagi para penikmatnya (pembaca atau pendengar pembacaan puisi). Hal ini pula yang menyebabkan adanya polemik tentang makna dari sebuah puisi karena setiap orang memiliki hak untuk menerjemahkan isi puisi. Hanya saja, makna yang paling benar adalah makna yang hendak disampaikan oleh penulis melalui karyanya. Setiap penulis pasti memiliki kesan tersendiri terhadap karya-karya yang ia ciptakan.
Zawawi Imron dalam Kumpulan Puisi Madura, Akulah Darahmu memunculkan banyak hal yang sangat menarik. Diantaranya adalah pemakaian imaji-imaji yang menggambarkan alam tempat tinggalnya, yaitu Madura. Hal ini diungkapkan sebagai wujud kecintaannya terhadap tanah kelahirannya. Bahkan, menurut cerita, beliau adalah salah satu penyair dari Madura yang enggan meninggalkan tempat kelahirannya, misalnya untuk bermigrasi atau pindah tempat tinggal ke kota/provinsi lain.
Dalam karya-karyanya, Zawawi banyak menggunakan imaji visual yang menunjukkan keadaan alam ataupun budaya di Madura. Hal tersebut Nampak dalam penggunaan kata-kata misalnya: Batang-batang (dalam Nyanyian Kampung Halaman) dan celurit (dalam Celurit Emas dan Meditasi Celurit), kerapan (dalam Di Kebun Siwalan), dan merpati jantan merpati betina (dalam Seekor Merpati Luka).
Bagian yang paling menarik dalam kumpulan puisi ini terletak pada penceritaan perempuan melalui sebuah puisi. Hal ini Zawawi lakukan dalam beberapa puisinya, diantaranya: Ibu dan Gadis.
Dalam sajak Ibu, penyair mengungkapkan segala rasa yang dirasakan terhadap sang ibu dengan memanfaatkan diksi yang begitu mempesona. Seperti kata pepatah “harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri”, dalam sajak tersebut, penyair menyatakan bahwa kasih yang diberikan oleh ibu kepada anaknya adalah kasih yang berkualitas. Kasih ibu akan mendampingi anaknya dalam segala hal. Selain itu, penyair juga mengingatkan kita bahwa manusia yang paling berjasa adalah ibu yang telah melahirkan, merawat, dan mendidik hingga kita bisamenjadi pribadi yang mandiri. Dalam puisi ini, dinyatakan pula bahwa kita tidak akan sanggup membalas segala budi baik yang telah ibu berikan kepada kita. Pesan moral yang begitu kental kepada kita adalah agar kita bisamenghargai dan menganggap “ada” wanita di sekitar kita yang menjadi poros, landasan, dan asal dari kehidupan. Bahkan dalam puisi tersebut penyair menyatakan bahwa pahlawan yang ada dalam pikirannya adalah ibunya.

IBU
kalau aku merantau lalu dating musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancer mengalir

bila aku meranyau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa ku bayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yangmeletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyerbak bau saying
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudra
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu

bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

Ibula itu, bidadari yang berselendang bianglala
Sesekali datang padaku
Menyuruhku menulis langit biru
Dengan sajakku
1966

Dalam Sajak Gadis, penyair kembali menutarakan kekagumannya kepada sosok perempuan seperti terlihat dalam baris bahkan mataangin juga pun rimba/senang memeram wangi rambutnya dan bahkan mataangin pun rimba/setia menjaga jejak kakinya. Untaian kata-kata tersebut neyiratkan pesan bahwa wanita/perempuan adalah sesuati yang menarik dan harus dijaga.

GADIS

bahkan mataangin juga pun rimba
senang memeram wangi rambutnya
maka kebisuan pun
meminta seribu duga

kembang turi yang dipungutnya
dulu ketika paceklik tiba
telah mekar pada mata
dengan akar minum ke jantung telaga

bintang apa bergumpal di tenggara?
malam-malam bujang haus
bersandar di pohon siwalan
pagi datang, ranum-ranum buah mangga

bahkan mataangin juga pun rimba
setia menjaga jejak kakinya
tanah coklat musim penghujan
diam-diam minta disungkal
1978




Zawawi Imron. 1999. Madura, Akulah Darahmu. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer