Tentang(mu), Ibu(ku)
untaian kata doa slalu terucap dari mulutmu
kau bangun dalam pohon kesabaran yang slalu rimbun
hijau dan slalu berbuah
mengiring langkahku yang takkan berhenti sampai waktu menentukan
usapan kasih slalu terungkap dari matamu
kau tebar dalam senyum yang tak pernah semu
tulus dan slalu berbinar
memelukku dalam kehangatan cinta yang tiada batas
airmata yang mengucur dari pelupuk matamu
tanda kasihmu yang kekal
meski tanganku lukai rasamu
meski slalu kau dapati bebal
dalam diri yang tak jua mampu
percikkan tawa pengganti kesal
lirih bisikmu
pancing pikirku akan makna tuturmu
meski kadang masuk telinga kanan keluar telinga kiri
tak pernah berhenti kau sampaikan
mutiara kehidupan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Entri Populer
-
LAMPU Seorang pria duduk di teras sambil memandang lampu yang menyala mencermati tetesan hujan yang lewa...
-
Novel PERANG Karya Putu Wijaya: Sebuah Renungan A. Pendahuluan Putu Wijaya (bernama asli I Gusti Ngurah Putu Wijaya) adalah seorang sastr...
-
Perang mimpi tak hanya jadi mimpi kini mereka menyerangku mengerat,mengikis, bahkan menghancurkan ota...
-
SARJANA Mereka bilang hidup perlu tujuan Mereka bilang derajat perlu dinaikkan Sarjana Impian dalam...
-
Ibu Kota Masihkah kau bernyanyi diantara cakar ayam pencengkeram perut kehidupan? Masihkah kau tersipu pada cermin pembelah muka? Sedu ...
-
Pak Tua (2) Nafasmu tersengal menahan rintih akan waktu yang semakin menindih Langkahmu tak lagi nyaring kala gesa meradang "H...
-
LELAH BERDIRI Gurat senja kali ini terhalang pekatnya mendung yang menggelora tak tampak seberkas cah...
-
Patung mendadak aku tak bisa bergerak terperangkap dalam ketakutan merintih pada sebuah tanya tak a...
-
KABUT Mereka datang menyerbu kala pagi merindukan hangatnya mentari menjaganya tetap dalam kesejukan...
-
Ruang Kosong tak sadar aku akan hadirmu dalam duniaku membawa kisah tak terkira mengembara dalam ruang h...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar